9 Ramadan : Hati yang patut dimenangkan

Langit sudah gelap, dan kepalaku terasa semakin berat. 

Malam itu, malam paling buruk yang pernah kuingat.

Labrador Adventure Center, November 2012.

Gelap, hanya itu yang kutau. Dan ketika aku sadarkan diri dan membuka mata, ya, ternyata di luar juga memang sudah gelap dan senyap. Tampaknya dari tadi aku sudah mengigau, entah tentang apa, dan entah sejak kapan. Itu pertama kalinya aku ditandu, dibawa ke Rumah Sakit tanpa satupun keluarga atau orang terdekatku. Aku masih ingat detik-detik badanku dibawa dengan tandu ke dalam mobil, lalu di tengah heningnya  persimpangan jalanan singapura dini hari, aku diantarkan memasuki situasi hectic di emergency room Alexandria Hospital. 

Dokternya tidak bisa bahasa melayu. Dan aku, selalu meremehkan pelajaran bahasa inggris terkait gejala klinis penyakit. Argh :”) Dengan setengah english dan setengah bahasa isyarat aku berusaha menjelaskan, saat kepalaku terasa ingin pecah dan telingaku semakin berdenging. Aku dibawa ke ruang lain untuk pemeriksaan selanjutnya. Dingin. Dan tidak bisa cerita kepada siapapun. Lebih tepatnya, tidak ada yang bisa mendengarkanku saat itu. Yang ada hanya pembicaraan singkat antara aku yang menggigil dan sudah tak kuat menahan dinginnya ruangan saat itu dengan salah satu perawat yang kumintai selimut.

Menunggu beberapa saat. Dan akhirnya aku bisa pulang dibawa panitia acara, membawa empat jenis obat yang sekarang aku sesali kenapa tidak mengingat namanya. Sekembalinya ke Labrador Domitory, nyeri itu masih ada. Butuh waktu untuk benar-benar merasakan kerja obat tadi. Terlalu tersiksa untuk tetap terjaga, tapi juga terlalu berisik untuk tidur, mengigau, dan akhirnya didatangi semua yang sedang tertidur masing-masing di ranjangnya. Jadi aku harus apa? 

“Bu, boleh saya ambil ambil handphone saya? Udah ga kuat bu.. mau ngabarin Mama.”

“Handphone nak? Waduh, jangan. Nanti mamamu bisa susulin kamu langsung ke sini kalau dengar kamu cerita sambil kesakitan gini.”

What? I dont even have my right to call my mom in the time like this….

Aku yang sesenggukan akhirnya tidak kuat lagi menahan tangis. Malam itu adalah malam yang paling kejam, karena untuk pertama kalinya, seorang anak mama yang manja, tidak diizinkan menelfon, setelah pingsan dan ditandu ke Rumah Sakit, tanpa satupun orang terdekat yang benar-benar dikenal sebelumnya.

 

Aku masih berusaha untuk memejamkan mata dan memaksakan diri untuk tertidur. Setidaknya hingga aku bisa melupakan keinginanku untuk telepati dengan mama, hanya untuk sekedar mewujudkan sebuah skenario percakapan :
“Ma, maaf ya, kemarin nggak dengarin kata mama..”
“Iya.. tuh kan apa kata mama.. lain kali didengar ya”

:’)

***

Singkat cerita, sebulan sebelum kejadian itu berlangsung, saya dengan semangatnya minta izin ke Mama untuk mengikuti kegiatan leadership camp di Singapura. Tapi jawaban Mama nggak sesuai ekspektasi saat itu.

(M : Mama, N : Nanda)

M : “Hm.. baiknya ngga usah aja apa ya dek? Kan acara di Pelopor Taru yang di Jakarta itu bulan depan juga, terus seminggu setelah itu juga seleksi AFS-YES di Jakarta lagi.”

N : (nggak terlalu mengindahkan). “Ma, tapi ini beda lo tempatnya. Undangan dari kemdikbud, dan semuanya dibiayain maa, kalo kita pergi kesana sendiri kan mesti bayar. Ya ya ya kapan lagi ya, ma?

M : Ya itu kan menurut mama, nggak usah aja.. Nanti kecapekan..

N : Bisa kok dibagi waktunya. Adek tetap ikut aja yaa ma! 🙂

Memang sih, saat itu saya keras kepala banget. Dan juga, pengetahuan saya tentang prioritas masih nol besar. Semua pengen diikutin. Sekalinya ada yang ajak, sekalinya ada yang undang, semua diturutin tanpa ngukur-ngukur kemampuan badan sendiri, akhirnya ya gitu.. saya disuruh istirahat satu minggu full di Singapura. Gaboleh kemana-mana. hm :”)

***

Itu baru salah satu contoh.

Di lain kesempatan, ada banyak hal-hal yang saya usahakan sekuat tenaga, tapi pada akhirnya ketika Mama ga ridha, semua ga akan lebih baik dari rencana. Kadang semakin kita dewasa, semakin tinggi tingkat pendidikan kita, kita jadi semakin merasa berhak atas diri kita dan merasa bahwa pilihan kita sudah dipertimbangkan dengan sangat matang dan orang tua kita tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap apa-apa yang kita putuskan.

Mungkin ada satu hal yang kita lupa, bagaimanapun hebatnya kita (yang kadang itupun hanya bekas upil-upil kesombongan kita, atau kalaupun beneran hebat, itu juga karna orangtua kita :’)), kemampuan dan pertimbangan kita gak akan pernah lebih canggih, lebih keren, lebih baik, lebih indah dan lebih dikabulkan daripada doa ibu… doa ayah.. doa orang tua kita.

Kalaupun kita ingin memberi pertimbangan atas masukan ibu kita, ada cara-cara baik yang perlu digunakan untuk mendapat restunya, tanpa harus menyakiti dengan ribuan kesoktahuan kita.

Beberapa bulan setelah malam yang kejam itu, saya yang sudah sangat takut pergi kemana-mana, takut merepotkan orang, takut sakit lagi pingsan lagi masuk Rumah Sakit lagi, takut melangkah lagi.. dikasih dukungan dan izin dari Mama untuk pergi ke Jepang saat menerima telfon dari pihak Bina Antar Budaya yang setahun belakangan menyeleksi proses AFS- YES yang saya ikuti.

Dan memang hasilnya berbeda sekali, apapun kesulitan yang dihadapi saat keberangkatan yang diiringi restu mama, rasanya bisa diatasi. Perasaan deg-degan karena hasil cek kesehatan rutin tiap pagi teratasi, karena saya alhamdulillah baik-baik saja. Rhinitis alergi yang kambuh tiap malam karena belum terbiasa dengan suhu enam derjat celcius saat itu juga teratasi, paginya terasa lebih lega. Langkah lebih ringan, dan ketika ada kesulitan, terasa dikirimkan banyak perantara yang memudahkan.

Dan yang penting dan tak bisa tergantikan dari setiap pilihan-pilihan itu adalah perasaan hangat saat tahu apa yang kita lakukan direstui mereka yang dimuliakanNya. Mereka yang saja tanpa sadar mengirimkan kita kekuatan saat rapuh, melalui doa-doanya.

Ridha mereka, ridha Allah juga kan? 

Jadi hati siapa yang sebenarnya patut dimenangkan? 

Yuk, Perjuangkan 🙂

-Nanda

(Anak yang sampai sat ini masih keras kepala, bandel dan masih jauh dari kata membuat bahagia orang tua, tapi seenggaknya sekarang sudah sangat mensakralkan restu mama papa dalam setiap pilihan yang diputuskannya :”) Semoga kita bisa jadi anak yang lebih baik lagi, dari hari ke hari.)

 

Hari 8 Ramadan : Menerima

Sudah berapa banyak hal-hal yang kamu anggap berarti, namun pada akhirnya pergi?

Sudah seberapa lama kenangan-kenangan tidak menyenangkan begitu menghantuimu?

Sudah seberapa sering harapanmu kau bumbung tinggi, atas apapun itu, lalu kau mengusahakannya, kau juga telah meminta bantuanNya, tapi realita seperti tidak berpihak padamu dan berujung mengecewakanmu?

Sudah berapa pilihan-pilihan kau buat dengan segala pertimbangan, tapi bukan pilihan pertama yang menjadi kenyataan, bahkan mungkin, yang terwujud adalah apa-apa yang tidak ada di dalam daftar rencana.

Sudah seberapa sering kita kecewa, merasa sesak, menahan tangis, dan akhirnya berdamai lalu berusaha melupakan? Menutup rapat-rapat semua benang merah yang terasa menyakitkan, menolak segala kemungkinan memori yang telah terkubur bisa muncul lagi ke permukaan?

Apakah setelah kita melupakan kita benar-benar akan tenang?

Kita sering salah kaprah; ‘lupa’ memang alamiah, tapi melupakan adalah sebaliknya. Bukankah dengan melupakan kita semakin ingat apa-apa yang hendak kita lupakan? hm :’)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.”

(QS Al Baqarah: 216)

Saya masih ingat hari dimana kelas khursus bahasa inggris saya dibatalkan, padahal saya sudah terlanjur datang. Saya kecewa. Yang belum saya ketahui saat itu, ternyata setengah jam setelahnya, gempa bumi terjadi dan membuat saya bahkan kehilangan teman-teman saya yang sedang mengikuti khursus juga.

Saya masih ingat, hari dimana saya tidak lulus tahap akhir seleksi pertukaran pelajar ke Amerika, setelah berjuang lebih dari 8 bulan. Dari sekian banyak yang menghibur, ada satu orang yg sontak berkata “Alhamdulillah“. Saya menahan sesak, jelas. Saat saya tanya ‘kenapa?‘, dia bilang “Dulu, ada sahabat rasulullah yang kakinya dibuat pincang, tapi justru karna itu dia ga kena kejahatan perang. Mungkin ada hal-hal yang dihindarkan supaya nanda dilindungi, untuk saat ini”

Dan yang tidak saya ketahui setelah itu juga, karena ketidakluluan itu, saya diberi kesempatan lain untuk bertemu abang saya yang sedang kuliah di Tokyo, saat saya akhirnya berkesempatan menjalani exchange ke sana. Dan itu lebih baik dari ekspektasi saya sebelumnya.

Saya masih ingat hari dimana saya harus melepaskan mereka yang saya sayangi, entah apa yang belum saya ketahui saat hingga saat ini, tapi yang pasti : menerima dan melepaskan akan lebih baik bagi saya dibanding saya bertahan dengan rasa sesak untuk bertahan dan sekuat tenaga mencoba melupakan.

Banyak sekali hal-hal baik yang tidak terbungkus rapi, tidak terbungkus cantik.

Tapi ketika kita menyangka itu buruk, bukan berarti itu buruk.

Mungkin saja, kita hanya belum mengerti.

Terkadang, menerima dan melepaskan…

This is the thing about life I’ve never really understood until now: we try so hard to control it, but bad things happen anyway. The only real control is an anti-control, a letting go.

R.A. Nelson, Teach Me

itu yang terbaik.

Jangan lupa rukun iman yang keenam, ya 🙂

Hari 7 Ramadhan : Jawaban Perjalanan

 “What do you prefer?

Travel far or Travel deep?”

I wont choose. Both are worth.

Apa yang kau bayangkan ketika mendengar kata ‘perjalanan’?

Ada mereka yang terbesit tentang jarak, tentang tempat-tempat baru, orang-orang baru, tentang sesuatu yang belum pernah dilihat dan dipahami sebelumnya. Dan itu termasuk aku, mungkin juga kau.

Tapi ternyata perjalanan tak melulu tentang jarak horizontal; seberapa jauh atau dekat, tapi juga tentang jarak vertikal; seberapa dalam.

Ada orang-orang yang berjalan jauh, berbekal peta, mereka bisa mengunjungi tempat-tempat baru, mengobrol tentang hal baru pada orang-orang baru, mendapat pelajaran baru. Mereka bisa melihat, mendengar dan merasakan situasi tertentu yang belum mereka kenali sebelumnya.

Sementara ada juga orang-orang yang berjalan dalam, mereka terlihat tidak kemana-mana. Diam di tempat, masih dalam keseharian mereka. Tapi ada ritme yang berubah, ada hal-hal yang bisa mereka ‘kunjungi’ walau ketika dilihat dari peta, mereka masih berada di titik yang sama. Entah itu dengan memperbaharui pola pikir, membaca buku, atau menggali lebih dalam dari orang-orang yang terdekat. Mereka telah berjalan walau dalam diam.

Mana yang mesti kita pilih? 

Aku berfikir bahwa perjalanan dalam itu sangat memikat, karena itu tidak mainstream, karena kita bahkan bisa menemukan hal hal sederhana dari apa yang ada di dekat kita. Coba kita masukkan ke dalam konteks Ramadhan; Jika pada bulan-bulan sebelumnya kita pergi ke tempat yang jauh, namun pada saat Ramadhan kita hanya berada di tempat yang sama, namun kita bisa menjadi lebih baik saat Ramadhan karna kita merubah pola-pola kebiasaan kita, tentu kita akan lebih takjub pada perjalanan dalam bukan?

Tapi di sisi lain, perjalanan jauh bisa memberikan kita hal-hal yang tak pernah kita duga sebelumnya. Coba lagi kita masukkan ke dalam konteks Ramadhan : Apakah akan sama rasanya ketika kita yang sudah berbelas tahun menjalani puasa  di khatulistiwa selama 13 jam, diberi kesempatan menjalani puasa di belahan bumi yang berbeda selama 18 jam? Akan ada begitu banyak peajaran baru karna karna kita butuh persiapan ekstra, lahir dan bathin, dan tentunya juga kesabaran yang lebih berlipat-lipat. Allah telah menciptakan bumi (dan bahkan alam semesta) yang bisa kita jelajahi dan pelajari, dan bahkan dalam hadist tentang orang-orang yang dikabulkan doanya, orang-orang yang dalam perjalanan termasuk ke dalam salah satunya.

Jadi mana yang lebih baik?

 Menurutku, tidak ada. karna keduanya sama-sama baik.

Ketika teringat hadist bahwa mereka yang berada dalam perjalanan doanya lebih dikabulkan, aku selalu meminta satu doa yang sama : ‘Ya Allah, semoga perjalanan ini memberi ‘jawaban’. Karena setiap pagi hingga malam setiap harinya, aku selalu bertanya banyak hal dan kebanyakan pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab saat itu juga. Dan seringkali, kita bisa melangkah menjadi lebih baik ketika pertanyaan-pertanyaan kita telah terjawab.

Yang tidak baik adalah ketika kita sudah berjalan kemana-mana tapi tidak mendapatkan jawaban apa apa dalam hidup, selain hanya foto-foto keren yang bisa kita pajang di sosial media. Rugi uang, rugi waktu, rugi tenaga, ya ngga sih?

Selamat melakukan perjalanan, semoga terkumpulkan jawaban-jawaban 🙂

Hari 6 Ramadhan : Sebelum sempat sedih

Ada saatnya dimana kita ingin menyerah saja,

tapi nyatanya kita tidak dilahirkan untuk kalah.

 

Ada saatnya kita ingin berhenti saja,

tapi nyatanya ada saat dimana kita akan ‘diberhentikan’ tanpa kita minta,

jangan minta sekarang.

 

Ada saatnya kita merasa tidak pantas melakukan apapun yang sedang kita kerjakan,

tapi nyatanya Dia mencintai mereka yang merasa bersalah, lalu memohon ampun..

Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”.

(HR. Bukhari no. 5641).

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”.

(QS. 2 : 155-157).

Tidak peduli seburuk apapun itu terlihat di mata kita;

perasaan tak pantas, takut, gagal, minder,

apapun itu, selama itu membawa kita semakin dekat padaNya, inshaAllah, itu baik.

Semoga lekas sembuh, semoga lekas kembali.

Ya, kita.

Hari 5 Ramadhan : Tenang

Hatiku merasa tenang ketika yang aku percayai sebagai Tuhan tidaklah banyak. Ketika pagi, siang, sore dan malam, aku hanya perlu menengadahkan tangan kepada Yang Satu, Yang Maha Esa.

.
Hatiku merasa tenang ketika yang aku percayai sebagai Penolongku hanyalah satu, dan tetap sama dimanapun aku berada. Sehingga ketika aku menjelajahi luasnya dunia, aku tetap akan berani melangkah karna tahu bahwa yang kan ada untukku tetaplah satu, tetaplah sama, dimanapun aku berada.

.
Jika aku harus mengganti tempatku bergantung ketika aku menginjak daerah atau negara yang berbeda, mungkin aku akan gila. Mungkin aku memilih untuk tidak usah saja melakukan perjalanan di bumiNya.

.
Hatiku merasa tenang ketika yang kujadikan panutanku adalah manusia yang paling sempurna. Yang ketika nyawaku hampir melayang karna seseorang tidak ‘sengaja’ mencelakaiku, yang ketika aku tidak cukup kuat untuk memaafkan orang itu, aku tertampar oleh bagaimana panutanku itu menghangatkan orang yang terang-terangan memusuhinya; memberi sup ketika orang yang mencoba membunuhnya jatuh sakit…

.
Hatiku merasa tenang ketika aku tau bahwa aku menjadi bagian dari mereka yang percaya bahwa agama dan pengetahuan tak akan bisa berdiri sendiri-sendiri. Ketika sebelum zaman pencerahan (Reinassans) di Eropa terjadi, Galileo Galilei sempat dibunuh karna fakta bahwa bumilah yang mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya tidak diterima oleh kaum agama tertentu, tapi Ibnu Rushd (Averroes) datang mengenalkan The Double Thruth Theory, bahwa keyakinan kita diperoleh dari wahyu Tuhan namun juga diperkuat dengan pengetahuan yang ada pada ciptaanNya. Tidak bisa salah satunya saja..

.

Hatiku merasa tenang ketika aku tau..

.

Sehingga ketika ada orang lain beraanggapan miring terharap sesuatu itu, aku tau bahwa mereka tidak benar. Bahwa kebenaran suatu agama tidak pernah ditentukan hanya dari perilaku dan kebiasaan umatnya (yang kini sudah tidak di jalurnya), apalagi ditentukan oleh golongan-golongan tertentu yang menamai diri mereka untuk mencoreng nama agama ini hingga jatuh sejatuh jatuhnya..

Hatiku merasa tenang ketika aku tau masih ada kesempatan mengingatMu di tiap helaan nafasku.. walau kadang jarakku sejauh itu padaMu :’)

Hari 4 Ramadhan : Arti (Zaraa Ep.2)

(Sambungan cerita Zaraa Ep. 1)

Agustus 2010.

Ini masih tentang Zaraa dan pencariannya. Siang itu, Zaraa yang masih terus mecari jawaban atas pertanyaannya, menemukan sebuah buku yang mengulik beberapa alasan seseorang berhijab.

“Ketika Mas Gagah Pergi”, karya Helvy Tiana Rosa.

***

Dalam salah satu kisah di buku ini, ceritanya nih, pada sebuah acara seminar umum tentang generasi muda Islam yang diadakan di UI. Si tokoh utama yang namanya Gita ini, nanyain tentang hukum berjilbab.

Assalamu’alaikum, saya Gita, masih SMA. Mau nanya nih, gimana sih hukumnya jilbab? Kan sunnah ya?

Gita yang sebenarnya telah diberitahu oleh teman dekatnya bahwa berjilbab itu hukumnya wajib, dengan semangat menanyakan hal itu. Hadirin seminar menjadi kasak kusuk.

Ya, setahu saya sih gitu. Ada banyak teman saya masuk pesantren. Di sana mereka pakai jilbab, tapi pas keluar ya mereka lepas-lah, malah ada yang jadi rocker.

Hadirin tertawa.

Kayak saya nih.. Saya mau pakai jilbab, tapi ya ntar, nunggu udah nikah, udah tua atau pensiun. Lagian yang penting kan kita bisa jilbabin hati,ya ga? Buat apa pakai jilbab kalau nggak bisa jilbabin hati. Mendingan nggak dong!

Hadirin riuh rendah, bertepuk tangan.

Lalu, salah satu pebicara seminar, bernama mbak ‘Nadia’, yang merupakan sepupu dari teman dekat Gita, dengan senang hati menjawab pertanyaan tersebut. Inilah apa yang dikatakan oleh Mbak Nadia…

Mengapa saya mengenakan jilbab?.  Alasan pertama karena berjilbab adalah perintah Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31.

Yap, alasan utama memakai jilbab,tentunya, tak diragukan lagi adalah karena hal ini merupakan perintah dari Allah SWT.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab : 59)

Sudah sangat jelas diterangkan dalam kitab suci bahwa Allah memerintahkan muslimah yang beriman kepadanya untuk menggunakan jilbab,bukan? Dan hukumnya wajib =)

Kedua, karena jilbab merupakan identitas utama untuk dikenali sebagai seorang muslimah. Astri Ivo, seorang artis mulai mengenakan jilbab saat kuliah di Jerman. Saya Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di Amerika.

Seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Ahzab ayat 59 di atas, kita diperintahkan untuk memakai jilbab agar lebih mudah dikenal.. Dengan melihat jilbab yang kita kenakanlah orang lain bakal ‘ngeh’ kalau kita itu seorang muslimah. 🙂

Alasa ketiga saya mengenakan jilbab,karena dengan berjilbab saya merasa lebih aman dari gangguan. Dengan berjilbab, orang akan menyapa saya “Assalamualaikum” yang juga merupakan do’a. Jadi selain merasa aman, bonusnya akan mendapatkan do’a. Hal ini akan berbeda bila muslimah mengenakan pakaian yang ‘you can see everything’

Well, untuk alasan yang satu ini. Silahkan dibuktiin sendiri. Karena contoh-contohnya banyak banget ditemuin di kehidupan sehari-hari kita. Seorang perempuan yang belum pakai jilbab ketika lewat di depan laki-laki/ preman di jalanan akan mendapati respon “Hai sayang..”, “Cewek”, dan sebagainya. Dan gak bisa dipungkiri kalau hal ini bakal bikin illfeel,bukan?

Beda banget sama ketika seorang perempuan udah pake jilbab. Memang awalnya risih juga, masa iya ‘preman’ bilang Assalamualaikum ke kita. Tapi.. bukannya itu berarti mereka respect ke kita dan juga sekaligus ngedo’ain kita. SubhanAllah.. bahkan seorang preman yang tak mengenal kita pun mendoakan keselamatan kita. Sesuatuu~ hehehe 🙂

*Ya, pasti ada yang berpendapat kalau ‘salam’ dari preman itu bersifat ga sopan juga, tapi ya.. masih mending kan dibanding panggilan-panggilan lain yang nggak banget?

Alasan keempat, dengan berjilbab, seorang muslimah akan merasa lebih merdeka dalam artian yang sebenarnya. Perempuan yang memakai rok mini di dalam angkot misalnya akan resah menutupi bagian tertentu tubuhnya dengan tas tangan. Nah, kalau saya naik angkot dengan berbusana muslimah saya bisa duduk seenak saya. Ayo, lebih merdeka yang mana?

Penah denger gak, kutipan yang bilang kalau “Kebebasan itu bukanlah ketika kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Tapi kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa melakukan hal yang benar, tanpa perlu merasa takut akan ada orang lain yang melarang” =)

Dalam segi kenyamanan juga, memakai jilbab itu banyak banget untungnya.. insyaAllah,apalagi jika digunakan dengan ikhlas. Rasanya ada pelangi yang menghiasi hati pemakainya. Jilbab melindungi dari suasana yang terlalu panas, dan menghangatkan di saat suhu terlalu dingin.. insyaAllah :’)

Alasan kelima, dengan berjilbab, seorang muslimah tidak dinilai dari ukuran fisiknya. Kita tidak akan dilihat dari kurus,gemuknya kita. Tidak dilihat bagaimana hidung atau betis kita… melainkan dari kecerdasan, karya dan kebaikan hati kita

Apa kelebihan manusia dibanding dengan makhluk lain yang diciptakan-Nya? Yup, “akal dan hati!”. Ketika orang lain menilai kita dari segi kecerdasan dan kejernihan akal, serta dari lembutnya atau baiknya perasaan yang kita miliki, di situlah kita akan lebih berharga sebagai manusia. Karena memang itulah kelebihan yang telah Tuhan ciptakan untuk kita, manusia.

Jangan pernah mau dianggap boneka, yang dipuja-puja hanya karena fisik semata..

Keenam, dengan berjilbab kontrol ada di tangan peempuan, bukan lelaki. Perempuan itu yang berhak menentukan pria mana yang berhak atau tidak berhak melihatnya.

Jelas sekali kebebasan yang dimiliki seorang perempuan berjilbab dalam menutup atau memperlihatkan auratnya. Karena memang sudah sepantasnya hal yang berharga tidak diperlihatkan kepada sembarangan orang. Bukan begitu,ukh? =)

Ketujuh, dengan berjilbab pada dasarnya wanita telah melakukan seleksi terhadap calon suaminya. Orang yang tidak memiliki dasar agama yang kuat, akan enggan untuk melamar gadis berjilbab, bukan?

hm.. dipahami sendiri saja lah ya 🙂

Terakhir, berjilbab tak pernah menghalangi muslimah untuk maju dalam kebaikan.  Berjilbab memang bukanlah satu-satunya indikator ketaqwaan, namun berjilbab merupakan realisasi amal dari keimanan seorang muslimah. ‘Jadi lakukanlah semampunya’. Tak perlu ada pernyataan negatif seperi “Kalau aku hati dulu yang dijilbabin”. Hati kan urusan Allah, tugas kita beramal saja dengan ikhlas.

***
Zaraa takjub. Tidak seperti saat ini, dimana hal-hal seperti ini bertebaran di sosial media, tujuh tahun yang lalu, alasan berjilbab yang dijelaskan dalam novel tadi adalah hal pertama yang membuat Zaraa tak lagi bisa mengelak. Ditambah lagi dengan berbagai hal yang akhirnya membuat Zaraa memahami, menyadari dan mengakui.

Zaraa suka bertanya, suka membantah jika itu belum sesuai dengan apa yang selama ini difikirkannya. Tapi ia tahu, bahwa setiap kali ia membantah sesuatu, ia juga harus terbuka terhadap berbagai kemungkinan hal-hal benar yang mungkin akan datang setelah pertanyaannya. Bukankah begitu cara belajar dan bertumbuh?

Kali ini Zaraa kalah telak, ia mengakui, ia menyadari.

Tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana,

untuk menjadikan apa yang ia percaya menjadi nyata.

***

Ini baru tentang satu hal, berjilbab. Ternyata dari perintah Allah yang satu ini saja begitu banyak makna yang terkandung di dalamnya.

Zaraa mulai bertanya, Jika satu hal seperti berjilbab saja sudah banyak sekali maknanya, bagaimana dengan shalat, mengaji dan hal hal yang selama ini diperintahkan kepadanya.

Jika kita diberi kehidupan untuk menjalani rutinitas dan ritual-ritual tanpa arti,       untuk apa kita dianugrahi akal dan hati?

Tanpa arti, hidup terlalu membosankan untuk dijalani.

Hari 3 Ramadhan : Mencari dan Menemukan (Zaraa Ep. 1)

Adalah hal yang wajar ketika seorang anak yg sedang menjalani transisi menuju dewasa mengalami transformasi pemikiran, dan mulai mempertanyakan tentang banyak hal disekitarnya.
Sayangnya, kita hidup di negara dengan sistem pendidikan, dimana anak-anak diberitahu ‘apa’ yang harus dilakukan, tanpa diberitahu ‘kenapa’ harus melakukannya. Dan akhirnya, jarang ada yang kritis bertanya dan mencari, kebanyakan hanya menerima atau ketika tidak menerima, langsung mencela.
Mereka yang bertanya dianggap sebagai pembangkang, bukan sebagai seorang yang ingin tahu, ingin dibimbing ke jalur yang benar. Sedih ya? Iya.
Mereka akhirnya bisa memilih dua jalur :
Yang pertama,
Jalur yang diambil oleh mereka yang tidak kuat dibilang “tidak patuh” ketika bertanya. Mereka akhirnya akan menerima saja instruksi-instruksi yang akhirnya menjadi rutinitasnya hingga dewasa, walau dia tidak terlalu mengerti maknanya, walau kurang paham maksud dari apa yang dilakukannya. Mereka yang pada akhirnya masa bodoh terhadap rasa penasaran yang sebenarnya ada di dalam diri mereka, namun tertimbun.
Sementara  yang kedua, mereka yang sulit membohongi dirinya dan rasa keingintahuannya, dan terus mencari hal lain yang kira-kira bisa menjawabnya.
Sebut saja namanya Zaara, dan dia, bisa dibilang termasuk golongan yang kedua.
                                                                               ***
Umur kita bisa jadi 18,19,20, dan seterusnya. Kalau ditanya orang, Zaara menjawab, umurnya kini 20 tahun. Tapi jauh dari itu ia baru merasa benar-benar hidup selama 7 tahun. Kenapa? Karna baru 7 tahun yang lalu ia mulai bertanya, mulai mencari, dan mulai menemukan, satu per satu, hingga akhirnya ia tersadar dan mengakui.
Pernah ada yang bertanya,
“Eh, berubahnya karna baca buku, ya? Buku apa?
Atau orang-orang yang bertanya pada orang lainnya,
“Waa sekarang pakai jilbab sejak mimpi yaa katanya? Mimpi tentang apa?”
Lucu rasanya ketika ada satu hal, satu kejadian, satu orang, yang dikatakan bisa membuat kita berubah. Seakan-akan perubahan adalah suatu sihir, yang ketika satu titik datang menyadarkan kita, maka.. ‘Voila!’ Kita jadi lebih baik dari sebelumnya. Hm, padahal kan kita hidup di dunia nyata yang ga ada power rangersnya *duh*
Tulisan, kejadian, atau bahkan seseorang yang menjadi titik awal tersebut, barangkali memang dikirimkankan Allah untuk jadi perantara agar kita bisa menjadi lebih baik. Tapi sebagaimana titik awal, itu hanya menunjukkan darimana kita harus memulai. Pada akhirnya, yang menentukan kita berubah adalah hal yang kita upayakan setelahnya, hal yang kita mohonkan kepada Allah agar selalu diberi bimbinganNya. Bagaimana mungkin kita hanya puas dengan titik “start” saja tanpa mulai melangkah dan mencari jalur selanjutnya?
                                                                                ***
Dari sekian banyak perubahan yang Zaraa pilih setelah ia mulai ‘mencari’,
ada satu perubahan yang terasa paling berpengaruh untuknya.
Its like she’s starting the domino effect of precious things, since she start this one. More than just physical appearance, It triggers her to change
as a whole person time by time.
                                                                                   ***
Yang akan diceritakan selanjutnya di sini
hanyalah ‘satu’ (dan bukan pula yg utama), dari sekian banyak
alasan yang membuat Zaara akhirnya memilih perubahan tersebut.
                                                                                    ***
Juli 2010.
Zaraa hanya remaja seperti kebanyakan teman-teman lainnya. Mengikuti apa yang orang lain kerjakan, dan salah satunya, pada saat itu,  kebiasaan membaca dan pinjam meminjam novel teenlit.
Semua terasa biasa awalnya, hingga suatu saat ia meminjam novel seorang teman yg berjudul “Hot Chocolate Love”. Sama seperti novel teenlit lainnya, hm ya cinta-cintaan dan segala romansa kehidupan yang wajar bagi seorang remaja yang baru memasuki fase baru dalam hidupnya.
” Tapi kok, di novel ini, ada yang beda ya? “
Dari novel ini, Zaara baru sadar ( atau mungkin selama ini sudah disadarkan tapi hatinya tertutup :’)), kalau dalam Islam, agama yang selama ini dia anut, memakai jilbab adalah sebuah kewajiban, dan pacaran adalah hal yang yang dilarang. Ceritanya begitu mengalir, menyejukkan, dan tidak menggurui sama sekali. Mungkin karna itu akhirnya Zaara benar-benar ingin tau.
Loh, loh, loh, Zaara yang masih berusia 13 tahun, kaget ketika membacanya. Kaget? Ya, karna yang ia temukan di lingkungannya, sangat berbeda dengan yang ditulis dalam novel itu.
Tujuh tahun yang lalu, akun-akun dan jarkoman dakwah tidak semarak saat ini, informasi masih sangat minim. Yang jadi penuntun bagi seorang anak adalah apa yang dia lihat di sekitarnya, dan yang ia lihat orang-orang terdekatnya ada yang memakai jilbab, ada yang tidak.
Konklusi Zaara sebelum membaca novel itu : Jilbab hanya pilihan. Kalau dipakai ya bagus banget, kalo  nggak ya gapapa, daripada makenya setengah hati, ya ngga?
Tujuh tahun yang lalu, belum bertebaran toko hijab syari seperti yang ada dimana-mana saat ini. Jangankan hijab syari, saat tahu kalau jilbab itu semestinya menutupi dada, saat tahu kalau berpakaian itu gak boleh ketat dan ga menutup aurat, Zaraa mulai semakin bingung. Karna saat itu, yang sering ia temui hanyalah celana jeans dan baju ketat, terbuka, bahkan ketika seorang telah memakai jilbab, ya begitu, tetap ga sesuai sama yang ada di novel itu.
Tujuh tahun lalu, belum ada buku-buku semacam ‘udah putusin aja’nya Felix Siauw ataupun bacaan lain yang bukan hanya memberitahu, tapi juga menjelaskan dengan rasional kenapa pacaran ga dibolehin dalam islam. Realita yang Zaraa tahu saat itu, pacaran ya sah-sah aja, normal kan? asal dalam batas wajar. Asal pacarannya ‘baik-baik’.
Semua terasa semakin kontradiktif.
Zaraa merasa dikibuli, dibodoh-bodohi.
Dan dia yang keras kepala ini, jelas, nggak terima.
                                                                                       ***
Semenjak saat itu Zaraa mulai mencari potongan mana yang hilang sehingga apa yang ia ketahui selama ini berbanding terbalik dengan apa yang tertulis di novel itu.
Pagi siang sore malam, selain untuk menjalani rutinitas, Zaraa habiskan untuk berselancar di internet, lalu berlanjut hingga Zaraa jadi langganan pembaca buku di perpustakaan sekolah saat jam istirahat.
Dan apa yang Zaraa temukan setelah mencari sendiri, sangat jauh berbeda dan ‘berarti’ daripada apa yang biasanya hanya ia terima dari kebanyakan orang selama ini.
(Bersambung)
“Since she decide to search, the story goes. 
Until she finally realize that we, human,
will only find what we’re searching for.”
                                                                                ***