Ada Waktu (yang sia-sia)

Ada detik-detik

yang habis dimakan amarah

ditelan api emosi

gugur bersama rasa kecewa

 

Ada hitungan menit hingga jam

yang seakan menguap di udara

berlalu tanpa menghasilkan apa-apa

hanya karena ego dan rasa sakit hati yang belum bertemu kata maaf

 

Ada hari-hari dimana

teman terasa menjadi lawan

dan segala yang tidak sempurna menjadi cela untuk saling tidak menyapa

 

Ada

Ada masa-masa di mana kamu sejauh itu dengan Pemberi Waktu

sampai-sampai kamu harus mengorbankan jutaan kala

untuk menyadari waktu yang terbuang sia-sia

karena helaan nafasmu tidak lagi diiringi sebutan namaNya

 

Ada

Ada masa-masa di mana semua yang ada di hadapanmu terasa buruk

semua kelakuan orang lain terasa menjanggal

dan boleh jadi saat itu hati kita  yang sedang bermasalah
sudah terlalu jauh berjarak dengan Yang Maha Menjaga Hubungan

 

Ada waktu yang kelihatannya sia-sia

 

Tapi,

Selagi kita masih menghembuskan nafas kita, dan tersadar

untuk kembali mendekat padaNya…

 

Barangkali detik ini,

adalah waktu yang paling tepat untuk kembali lagi

berjalan saling mendekap dan mendekat dengan Dia yang tidak memberi kita ruang untuk kata kecewa, putus asa, dan sia-sia

 

 

 

Advertisements

Kuat

Coba kau lihat ranting pohon itu.

Menurutmu, mana yang lebih kuat? Apakah dia yang tetap bersikeras tak bergeming walau badai menerpa, ataukah dia yang lembut menyesuaikan dirinya bersama lambaian angin?

Awalnya aku mengira, dia yang kuat adalah dia yang tak pernah bergeming walau sesaat. Ternyata aku salah. Dahan yang kering dan tak bergeming akhirnya patah, diterpa angin yang mengalahkan pertahanannya. Yang bertahan, justru dia yang menyerahkan dirinya, memasrahkan dirinya sesuai arah angin, selagi tetap mencari cara bertahan.

Mungkin kita juga begitu.

Memendam tangis tak kan membuat kita lebih kuat. Melepaskannya, juga bukan pertanda bahwa kita lemah.

Jika malam ini angin kencang menerpamu, tumpahkanlah. Kau perlu lembut menyambutnya. Biar langit kelam mendengar isak tangismu malam ini, asal kau berjanji esok pagi kau akan tersenyum lagi.

 

Mereka yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah bergeming.

Mereka yang kuat adalah mereka yang kadang terlihat lemah, namun sebenarnya sedang berjuang mencari cara menolak patah.

People with Regret

“Perdonare,” the woman mumbled.

I had to swallow between words. “What was she saying?”

She gently lowered my shoulders. “Forgive.”

“Forgive her? him?”

My head touched the earth. I felt moist blood trickling down my temples.

“Yourself,” she said.

My body was locking up.

[For one more day – Mitch Albom]

Ramadan is about to end. Syawal is about to come. Eid Al-Fitr is right in front of our eyes. We will be busy saying sorry, in hope that in this ending we will really got any kind of ‘victory’.

Saying sorry is a good thing. It might as well be a great thing to forgive. 

But lately ive been haunted by this kind of thought :

Everytime I say sorry,

 do people really forgive me,

when even myself havent forgiven mine?

                                      ***

Before saying sorry to anyone, It might be better for us to forgive ourselves first. No, dont imagine yourself talking in front of the mirror saying ‘sorry’ and the reflection across you will reply ‘ya Ive forgiven you’. But yes, What I mean is forgiving whats inside. What I really mean is : to regret, to contemplate and to repent.

Doing wrong thing is always bad. But we are human not angels.. Theres always the same opportunities for everyone, whoever she/he is, to goes wrong, to commit sins. The only good thing after doing wrong is that we can always regret (as long as we’re still breathing), as we realize that what weve done is bad. We can contemplate, tryin to find the reason and the way  how can we turn back and how to avoid doing the same mistakes. And we can repent (read : tawbah), turn back to Allah, where we belong.
1 months. 

Have weve done much in this month? How much do we change? 
Honestly, I really am not ready to face tomorrow. It feels like ive been nothing in this blessed month. When I know that evil isnt here when its Ramadan, I am asking myself then ‘ who were triggering myself doing or thinking bad about something?’. I even feel afraid to myself, because I finally see it clearer that : my biggest enemy is actually, myself. And without Allah, I even cant fight the battle against myself. What a shame :’)

Ramadan is really about to end. It is. Is it too late for us to please Allah?

I hope were not. Because in fact, we’re still given this chance to blink our eyes and breath the air. We are living. And thats a good news because it means that we have time to do the think He love :  

Verily, Allah is happier with the repentance of His slave than the happiness of a person who lost his camel in a desert land and then finds it (unexpectedly)”.

[Al-Bukhari and Muslim].

 Theres always to ways of reacting, whenever we commits sins:

1. to be okay with it. Because we get used to repeat the mistakes all over again, or 

2. to feel guilty, to admit that we are wrong, to say sorry,and work on how can we change to be better and not doing the same mistakes again? To do tawbah..

May we choose the 2nd 🙂

May be, we can fully forgive ourself when we seriously do the repentance to Allah and truly believe that He always forgive us, as long as we regret and work hard for not doing the mistakes again.

And by that, hopefully we get the meaning of all “sorry” words we say to everybody in celebrating Eid. Sorry means we really feel guilty of what weve done to them, and strive on the way for not doing the same mistakes to that person, again.
In the end of this Ramadan.. May we blessed with sincere forgiveness both from The Sky and also the earth  :’)

13 – 29 Ramadhan : Lessons learned 

Tulisan ini didedikasikan untuk seorang sahabat yang mengajak (atau menantang wkwk) untuk memperjuangkan apa yang sering ingin kita perjuangkan tapi kadang selalu jadi wacana… Ya, kamu euy. Kamu, Khairunnisa.

dan untuk mereka, yang mungkin ngerasa cuma ngelakuin hal sederhana : nanyain nanda “tulisan hari ini belum ada ya nand? Lagi sibuk?”, atau kirim chat dengan capslock “NAND JANGAN LUPA NULIS HEHE”. atau balas snapgram nanda “lah main-main sempet tapi kok nulis ga sempet naaaan” dan lainnya yang menurut kalian itu ga berarti apa-apa.. but that seriously means a lot to me :’) Nanda emang sering lupa dan lalai, dan kehadiran pengingat pengingat itu rasanya sangat berarti….. banget.

Dengan tulisan ini, nanda (dan khai) ingin meminta maaf karna bahkan nanda ga bisa memenuhi janji kita ke diri sendiri untuk lebih disiplin, yang kali ini diwujudkan dengan nulis setiap hari di Ramadan Writing Challenge bersama Khai (nanda di wordpress, Khai di tumblr).

Kenapa nanda minta maaf disini juga? Karna nanda terlanjur menyebut janjinya di snapgram dan itu berarti nanda sudah berjanji ke beberapa orang yang liat saat itu bahwa nanda akan nulis setiap hari di akun ig/wordpress ini… hehe how small it is, its still a promise right?:’

 Rasanya pengen nangis tapi masalahnya air mata ga bisa memutarbalik waktu :’)

Jadi dengan ini nanda dan khai menyatakan kegagalan kami. Ya, bahkan untuk tantangan dari diri sendiri aja kita kalah.. 

We might failed the challenge, but I dont want to see us failing the learning proccess of what weve started too.

So here, I want to share some lessons that ive got during the challenge, so it might leave more than just regrets and guilty feeling for me and Khai :’) Here they are : 

1. Gak pernah ada yang salah dari memulai. Kalaupun ada, yang salah itu adalah kurang matangnya persiapan, bukan ‘memulainya’ itu sendiri. Kita (nanda dan khai) boleh jadi kecewa karna kita gagal memenuhi tantangan 29 hari dan terhenti saat baru setengah jalan. Tapi kabar baiknya, itu lebih baik dibanding kita selalu berwacana di garis “start” tanpa pernah jalan atau bahkan merangkak sama sekali. Biasanya kita berhenti bahkan sesaat setelah kita ngomong lo, cuma bunyi tanpa aksi :’  Hm, jadi ya.. ga ada salahnya kali ini kita bersyukur ditengah kutukan dan ratapan sedih ini kan? :’)

Kita ga bisa terus-terusan langsung ingin jadi sempurna saat kita masih amatiran. Emang mesti ngaku salah ngaku bego kalo kita bener-bener mau belajar.

2. Poin 1 bukanlah pembenaran, hanya sedikit bentuk ‘apresiasi‘. Because our brain -spesifically and emotionally- our amygdala, need both  fears and reward, isnt it? 🙂 

3. Kita gak pernah sesibuk itu, tapi kita  terlalu memanjakan diri dengan alasan-alasan yang akhirnya membenarkan penyataan kalau “kita sibuk!” Padahal kesibukan kita bukan apa-apa dibanding orang lain yang bahkan emang disibukkan sama hal-hal yg jauh lebih bermanfaat.

4. Semua tentang prioritas. Ketika yang kita prioritaskan memang hal ‘penting’, hal-hal penting bahkan hal remeh temeh lainnya bakal bisa terlaksana.

10 hari pertama, saat masih semangat-semangatnya mengejar target amalan harian Ramadan, mengusahakan hal wajib dan sunnah bisa terpenuhi, rasanya semua beban kuliah, bantuin mama, sosialisasi bareng temen, bahkan baca novel sekalipun, semua terjalani. Ntah gimana caranya, semua yg biasanya keteteran, bisa jadi lebih rapi. Terbukti memang kalau Prioritas kita adalah untuk Sang Pemilik Waktu, waktu akan selalu ada untuk kita, di jalan yg baik , inshaAllah.

Tapi sayangnya cuma bisa pertahanin itu 10 hari.. 20 hari kemudian.. jangan ditanya :’) hiks

5. Musuh kita adalah diri kita sendiri, terutama ketika kita menunda dan membesarkan serta membenarkan alasanalasan yang semakin memanjakan sekaligus mematikan.

Setelah 10 hari pertama, ada ‘tamu’ yang datang dan mempersilakan untuk ga shalat dan ga baca Al-Quran yg akhirnya juga bikin malas bangun sahur, dst dst. Ya, itu normal, tapi kita sering melebih-lebihkan alasan untuk memanjakan diri. Semua alasan ditelan mentah-mentah. 

Sampai akhirnya ‘tamu’ itu pergi pun, ada banyak hal yg terlewatkan termasuk menulis karna kita udah terbiasa manja, dan semakin rajin membuat alasan yang makin lama beranak pinak : besok ujian, ada agenda persiapan KKN, ketemu pembimbing skripsi, belajar untuk tutorial, acara reunian yang cuma sekali setahun, dan seterusnya dan seterusnya sampai alasannya jadi satu kampung :’) 

 Jadi faktanya, kita ga pernah terlalu sibuk. Asal prioritas kita hal yg ‘penting’. Yang penting? Apa? 

 Segala hal yang mendekatkan kita ke Allah.

6. Ada banyak hal-hal baru tentang menulis yang kita pelajari : cara menulis cepat 15 menit (supaya menulis ga dijadikan alasan untuk mengganggu kita yg ‘katanya’ sibuk), jenis tulisan yang benar-benar cocok dengan kita (karena ternyata kebanyakan kita terpengaruh dengan gaya nulis orang lain yang, hm mungkin aja ga nyaman untuk kita pakai), tentang pentingnya riset (riset 90%, nulis 10%), dan banyak lagi. 

7. Kita belajar untuk tumbuh bersama tulisan-tulisan kita. Tulisan itu bukan bukti seberapa baik seseorang, tapi sebuah ‘harapan’ ingin menjadi apa dia. Apalagi untuk orang-orang yg ilmunya minim kaya kita, semakin kita ingin menulis, semakin banyak hal yg perlu kita pelajari sebelumnya. Dan tanpa sadar, hey, setelah menulis, kita jadi tau banyak hal yang sebelumnya belum kita tau 🙂 

8. Penjara yang paling menyiksa adalah terkurung dalam prasangka orang lain, dan mencoba menyenangkan semua orang. Dan ketika kita bisa melakukan sesuatu bukan karna orang lain, berarti kita berusaha membebaskan diri kita sendiri, bukan? 

Biasanya, kita lebih termotivasi menulis ketika ada tugas, ada lomba, tapi kali ini.. kita melakukannya karna tantangan, bukan dari siapa-siapa, melainkan dari diri kita sendiri. Karna kita tau tujuan utama tulisan kita sebenarnya adalah pelajaran untuk diri kita sendiri di masa depan. 

Dan terlalu pelit jika disimpan sendiri. Jika ada orang lain yang merasa itu bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidakpun, tak masalah. Karna kuta tau tujuan utama kita.

The more I write the more I know that writing is not about trying to speak to others outside, its about struggling to listen my voice hidden inside.

9. Time flies, and it flies faster when we dont count it. Doing something daily, makes the day more counted. 

Ya.. waktunya terbang, sama kayak Ramadan yang udah berlalu. Semoga kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri lagi sampai kita bisa ketemu Ramadan tahun depan dengan lebih maksimal lagi. (Aamiin) 💕

Will you?

Everybody love to eat. 

Some people learn to cook.

Most of people are able to read. 

Some of them choose to write.

Every human can learn.

Some are feeling happy to teach.

Everyone used to consume. 

Some manage their time to produce.

Every creature receive.

Some want to share and give.

Everybody enjoy being served. (Who doesnt?)

But only some people find the joy of serving and sharing what they have.

 Everyone want to accept kindness.

Only few people love to pay forward.

Will you be the one who want to sacrifice your time to pay forward? 
Will I? 

12 Ramadhan : Tentang Menyampaikan dan Mengingatkan

“Kenapa sih menyampaikan (tabligh) jadi sifat wajib Rasulullah, manusia yang paling mulia? Kalau benar (shiddiq) ya harus, cerdas (fathanah) juga mesti, dapat dipercaya (amanah) sih wajib banget, ya kita tau lah ya kenapa. Tapi menyampaikan? hebatnya apa?”

Ada begitu banyak pertanyaan keliru yang kadang dengan kurang ajarnya keluar dari mulut kita. Salah satunya pertanyaan dari seorang gadis kecil di atas. Ya, itu sebego-begonya pertanyaan yang terfikirkan oleh saya saat itu, kira-kira 6 tahun yang lalu.

Menyampaikan, hebatnya apa? Semua orang bisa kan? 

Saya berhenti mempertanyakannya ketika sadar bahwa menyampaikan tanggungjawabnya besar sekali :”)

Ketika saya menyampaikan kultum jumat saat SMA (bukan karna saya siapa-siapa, tapi memang udah gilirannya maju di sistem piket hehe) tentang kejujuran saat mengerjakan ujian, beberapa saat setelah itu saya langsung diuji dengan kondisi akademik yang merosot dan sangat menyedihkan. Rasanya godaan untuk berlaku curang supaya ‘lolos’ dan ngga remed itu sudah menguap di seluruh udara di sekitar saya. Bahkan ada yang bilang dengan gamblang “kayaknya kalo kamu ‘lurus-lurus’ aja kamu ga bakal lulus, deh. Udahlah..”

Saya jadi berpikir : Kalau saya ga lulus, saya akan malu di hadapan orang. Kalau saya lulus tapi dengan cara curang, saya akan malu dihadapan diri saya sendiri karna saya mengingkari apa yang saya sampaikan :’) dan rasanya ga ada yang lebih memalukan daripada membohongi diri sendiri kan. Akhirnya, mati-matianlah saya berusaha lulus ujian akademik, pun ujian untuk ‘berjuang’ bersama apa-apa yang saya sampaikan.

Menyampaikan, hebatnya apa? Semua orang bisa kan? 

Saya berhenti mempertanyakannya ketika sadar bahwa apa-apa yang saya sampaikan hari ini adalah apa-apa yang akan menghampiri dan menampar saya di kemudian hari.

Entah itu perkataan, tulisan, atau apapun yang kita bagikan ke orang lain, nantinya akan kembali kepada kita untuk menguji apakah kita sudah sesuai atau belum dengan apa-apa yang kita sampaikan. Dan itu, ternyata, nggak mudah :’) Tapi barangkali itu cara Allah untuk membuat kita tumbuh bersama apa-apa yang kita sampaikan dan  agar kita tidak jadi orang yang dibenci olehNya.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. Ash-Shaf: 2-3)

Kita akan diuji sesuai apa-apa yang kita sampaikan.

Duh, berat ya emang kalau menyampaikan, yaudah kalau kalo gitu lebih baik kita diam-diam aja ya? biasa-biasa aja.. 

Nah, jangan gagal paham. Bukan berarti ketika sesuatu itu berat, kita baiknya minggat. Bukan berarti ketika dia gak mudah, akhirnya nggak indah. Pernah denger ga kalau kejahatan menang bukan karena banyak penjahat yang hidup di dunia yang kejam ini, tapi karena banyaknya orang baik yang saling diam dan mendiamkan?

 Amar Ma’ruf Nahyi Munkar (Mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan) itu juga perintahNya. Menyampaikan apapun yang baik akan terasa berat ketika ga ada yang mengingatkan. Sebagai manusia, memang alamiah bagi kita untuk lupa. Tapi syukurnya, kita juga diperintahkanNya untuk saling mengingatkan. Ketika kita bahkan lupa terhadap apa-apa yang pernah kita sampaikan, ada orang lain yang mengingatkan kita, dengan cara baik-baik. Rasanya.. ga ada cara ‘bertumbuh’ yang lebih baik dari pada itu : Saling Menyampaikan dan Mengingatkan.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang

menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung

(QS : Ali Imran, 104)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

(QS. Ali Imron: 110)

 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi.

Kecuali orang-orang yg senantiasa beriman dan beramal saleh dan saling menasehati di dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran”

(QS.Al-Asr: 1-3)

Semenjak tamparan-tamparan yang datang setelah menyampaikan apapun itu, saya baru mulai berhenti bertanya “Apa sih yang spesial dari tabligh?”

Walau keadaannya berbeda dengan konteks tabligh pada saat Rasulullah SAW menebar kebaikan dulu, tapi satu hal yang saya pahami, menyampaikan gak pernah segampang itu..

***

-dari yang mencoba menyampaikan, dan perlu setiaaap detik diingatkan.

11 Ramadan : Semua laki-laki itu sama?

“Semua laki-laki itu sama!”

Sering ngga sih dengar kata-kata itu?

Entah siapa yang memulainya, tapi rasanya itu kalimat yang udah nggak asing lagi terdengar di sekitar kita. Entah cuma bercanda, ataupun saat memang sedang kesal terhadap seseorang.

Jadi, apa benar semua laki-laki itu sama? Jangan tanya saya, haha. Tanya aja langsung sama mereka ^^” Tapi bukan itu masalahnya. Hal yang sebenarnya akan dibahas disini adalah tentang generalisasi, kebiasaan kita untuk menyamaratakan respon terhadap hal yang sebenarnya berbeda, namun datang kepada kita dengan stimulasi yang sama. Dari kecil memang kita sudah terbiasa melakukan hal ini. Misalnya, kita menyebut semua hal yang dapat diduduki sebagai “kursi” atau memanggil semua wanita “mama” padahal itu bukan ibu kita. Ya, itu hal yang normal di masa awal kita mulai mengenal dunia.

Mirisnya, saat sudah dewasa, kita sering menyalahgunakan kemampuan kita untuk melakukan generalisasi, menyamaratakan sesuatu.

Contohnya malam ini, ketika menggulir (baca : scroll) linimasa instagram, saya menemukan suatu kumpulan foto polisi yang sedang membantu masyarakat yang berada dalam kesulitan. Dan sontak ketika melihat pos semacam itu, kita langsung berdecak “Wah, masih ada ya, yang baik banget gitu!”. Kenapa? Karna selama ini kita sudah sering termakan generalisasi bahwa semua polisi itu sama, sama-sama suka menilang dengan tujuan untuk mencari keuntungan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya? Kita ga bisa menyimpulkan sesuatu hanya karna kita pernah melihat kejadian itu sebelumnya terjadi pada kita.

Bukan berarti saat banyak yang mengatakan bahwa polisi suka sembarang tilang, lantas kita melupakan perjuangan mereka yang memang menjadi polisi karena berniat baik ingin menegakkan peraturan dan menertibkan masyarakat. 

Bukan berarti saat banyak yang berasumsi bahwa dokter suka mencari keuntungan dan kekayaan dari pasien, kita lupa bahwa ada mereka yang menghabiskan usianya karena benar-benar ingin membantu menyembuhkan. Yang jika mereka hanya ingin mencari kekayaan dan prestise, mereka bisa mencari pekerjaan lain, bukan dokter.

Penyamarataan kadang memang bisa berdampak buruk.

Bayangkan seorang anak yang memang memiliki niat baik untuk memperbaiki kondisi negara ini dan bercita-cita suatu saat ingin menjadi pemimpin. Tapi ketika dia mempercayai generalisasi bahwa dunia di atas sana tidak baik, politik semakin lama semakin tidak benar, kotor, maka sedikit banyaknya anak ini akan memikirkan untuk menimbun niat baiknya tadi. Dan sebagai dampaknya, akhirnya memang mereka yang ‘tidak benar’ yang semakin memenuhi ruang-ruang politik tadi. (ini hanya contoh, perumpamaan)

Dalam dunia penelitian, kita bisa menarik kesimpulan ketika kita memiliki data, terutama yang kuantitatif, misal; ketika kita melakukan sensus penduduk, lalu menyimpulkan sesuatu dari data yang kita dapatkan tersebut. Sementara untuk hal-hal yang bersifat kualitatif, yang ditekankan adalah pendalaman informasi hingga mencapai titik makna, jadi kita tidak bisa langsung menyimpulkan suatu generalisasi tidak sempurna, kecuali jika kita melakukan prosedur pengujian lagi terhadap hal tsb.

Sederhananya, kualitas seseorang secara personal nggak pernah bisa kita simpulkan hanya dari pekerjaannya, pergaulannya, lingkungannya, dsbnya, walaupun nggak bisa dipungkiri kalau hal-hal tadi bisa mempengaruhi orang tersebut.

When it comes to  personal things, we cant generalize people.

Kita bukan hanya dianugerahi kemampuan untuk menyamaratakan sesuatu (generalisasi), tapi juga kemampuan untuk membedakan satu hal dengan hal lain (diskriminasi). Dan keduanya, sama-sama kita butuhkan.

Kembali ke topik awal, yang saya yakin pertanyaan ini menjurus kepada kualitas, sesuatu yang nggak segamblang itu untuk bisa diukur :

Ketika ada laki-laki yang menurutmu tidak baik, mengecewakan, dsb apakah lantas kita boleh menyimpulkan bahwa mereka sama?

Jadi, apa semua laki-laki itu sama?

Hahaha, ya dari penjelasan tadi mungkin bisa sama-sama kita tebak jawabannya apa.

Dont loose hope, girls. 

Masih ada laki-laki baik di luar sana, percayalah.

Masalahnya tinggal apakah kita bisa membedakannya

dan apakah kita cukup baik untuk mereka atau tidak.

***

 

 

 

(HAHAHHAHHAHA. Kenapa anak kecil ini jadi mendadak bijak :”) wkwk maafkan segala kesoktahuan ini.)

Salam! 🙂