Tentang Bagaimana aku Memandangmu

 

Manusia.

Pada akhirnya aku mengerti bahwa yang terjadi di antara interaksi kita bukanlah sekedar efek domino. Dimana ketika si A memberi dampak kepada B maka akan diteruskan hingga mencapai Z.

 

Hubungan di antara kita semua  tak pernah  sesederhana itu.

 

Ketika aku melihat hubungan di antara kita semua, manusia, aku membayangkan untaian benang panjang berwarna-warni, saling berjalin, berpilin, menyebrangi dan melintasi satu sama lain hingga ketika kulihat dari kejauhan kita tampak seperti bola raksasa  yang terbentuk dari ikatan-ikatan warna yang saling mempengaruhi satu sama lain.

 

Banyak yang bertanya, mengapa seseorang seperti ini dan itu? Mengapa mereka melakukan hal yang menurut orang lain tidak cukup baik untuk dirinya?

Aku diam. Bukannya tidak peduli, aku hanya berusaha menyelidiki tentang seseorang itu, benang warna apakah dia, dan benang mana yang telah mengikatnya, melepasnya, menambah warnanya di antara jutaan benang bola raksasa yang saling menghubungkan kita.

 

Ada alasan mengapa seseorang berlaku begini, bertingkah begitu.

 

Pun juga kau.

 

Tulisan ini tentang bagaimana aku memandangmu, seorang manusia yang tak akan pernah lepas dari prasangka manusia lainnya.

 

Kau tahu? Ketika kabar buruk terus menghiasi perbincangan tentangmu. Aku tak kan pernah bisa percaya. Bagaimana mungkin? Pikiranku, dengan segala keterbatasannya bisa menilai kau, satu benang diantara bola raksasa yang saling melilit, dengan segampang itu saja, melalalui perkataan orang lain yang bahkan belum mengenalmu sebelumnya.

Aku hanya akan mempercayai sesuatu ketika itu berasal dari sumbernya. Begitupun kamu. Tentang apa yang sudah kau lepaskan pun melepaskanmu, tentang jalinan, pilinan, ikatan dan dampak apa yang kau berikan pada sekitarmu, hanya kau yang dapat mengembalikannya kembali lurus dimulai darimana dan kemana benang ceritamu bermuara. Hanya kau yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi padamu.

Tenang, aku hanya percaya sepenuhnya, ketika memang kau yang mengungkapkannya, dalam tenang, dari dasar lautan kejujuranmu. Bukan dari manusia lain, yang mungkin memang tabiat buruknya suka menyebar berita bahkan sebelum tahu kebenarannya.

 

Tapi kau juga harus tau, bahwa dengan pernyataan tadi, aku bukan berarti membelamu. Bukan berarti aku menjadi buta terhadap hal-hal yang memang jadi kekhilafanmu. Aku mempercayai kejujuranmu, tentang pembenaran dari apa yang menurut mereka buruk tentangmu, padahal sebenarnya tidak begitu. Namun juga tentang pengakuan atas hal buruk yang memang kau alami, atau bahkan mungkin lebih buruk dari segala prasangka yang telah ditujukan padamu.

 

Kita sudah dewasa, bukan?

 

Kita bukan lagi anak-anak yang bisa saling menuduh, berprasangka bahkan menangis hanya karna adu domba diantara teman sebaya. Syukurnya, sekarang kita sudah bisa berfikir dan bertindak lebih cerdas daripada itu, bukan?

 

Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya padaku tentang bagaimana aku memandangmu, maka jawabannya bukan sepenuhnya padaku, tapi padamu. Karna aku lebih percaya kejujuranmu daripada prasangka-prasangka dengan segala bumbunya.

 

Ceritaku ini bukan tentang satu orang. Tapi ini benar-benar tentangmu.

Ya, kau semua yang membaca tulisan ini sedari tadi.

 

Ketika ada orang lain yang berpendapat tentangmu aku tidak pernah begitu mengindahkannya. Lagi lagi, bukan karena aku tidak peduli.

 

Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang kubenci.

 

Benci? Ya, Ketika krasak krusuk sesuatu yang buruk tertuju padaku, aku benci pada setiap kabar yang beterbangan tanpa tanggung jawab pengirimnya. Walau pada akhirnya aku hanya tertawa karna terkadang apa yang jadi pembicaraan adalah hal yang bahkan aku sama sekali tidak mengetahuinya, apalagi mengalaminya.

 

Manusia.

Aku terlalu bodoh, terlalu lugu, terlalu polos, terlalu tak pantas ketika harus menyimpulkan tentangmu dari apa yang orang lain katakan.

Maka aku memilih untuk percaya padamu,

Pada benang yang bisa meluruskan dirinya dari ribuan prasangka, benang yang tau asal muasalnya.

Dari pada bertanya kepada warna lain yang mungkin hanya pernah melihat sekilas garismu diantara gumpalan bola benang raksasa.

 

Begitulah, bagaimana aku memandangmu.

 

Advertisements

Pulau itu…. lagi :)

lagi lagi, pulai itu lagi.

ternyata udah berlalu dua tahun lebih semenjak hari itu, 18 Juni 2011. Waktu Fafung jalan-jalan mengisi liburan setelah UN SMP 🙂 Kita naik kereta api dari Padang menuju Pariaman dan sesampai disana kita bingung mau ngapain di siang yang terik itu. Semua badmood. udah nyampai di tempat tujuan tapi setelah itu, “so what?” ga tau mau ngapain. Hingga akhirnya kita memutuskan buat pergi ke pulau seberang (yang waktu itu kita belum tau namanya pulau apa) dg menggunakan perahu kecil.

Dan sesampai di sana….. bener-bener unexplainable! Kami hanya ber-8. delapan anak perempuan + seorang yg membawa kami ke pulau itu dengan perahunya (bang Awen). Dan di pulau itu, pada saat itu bener-bener gak ada pengunjung lain. Dan fafung bener-bener meng-udik ria di sanaa~ kita merasa berkuasa, merasa jadi penemu pulaunya! haha. kangen sekali saat saat itu :’)

Dan seminggu yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, 22 September 2013, Flascita(nama kelas, kumpulan 29 manusia spektakuler sih katanya :3 ) pergi ke pantai buat foto bareng untuk buku Tahunan kelas sebagai tugas akhir pelajaran TIK. Awalnya kita berenca ke pantai tiram, gak mau jauh jauh dari padang. Dan sesampai di tempat tujuan… lagi lagi, kita ngeliat pantai Tiram dan…. “so what?” Semua kecewa. Pantainya biasa ajaa….. Dan setelah beberapa konflik dan perundingan akhirnya kita mutusin buat pergi ke Pantai Gondoria Pariaman juga 😀 terus nyebrang ke pulai itu…. huaaah, pulau itu lagi, pulau itu lagi…

Saat kunjungan kali ini, pulau ini sedang banyak didatangi wisatawan, terus bedanya lagi, sekarang udah ada beberapa kios tempat jualan minuman dan makanan di sana… jadi gak sepi kayak waktu dulu pergibareng fafung 😦 nggak kayak penemu pulau lagi… feelingnya beda :/ Tapi tetep aja, pulaunya cantiiiik, pasirnya masih lembut banget, bersih, dan airnya juga masih biru jernih, subhanAllah… semoga dengan semakin banyaknya orang yang pergi kesana, pantainya gak jadi jelek dan kotor. Aamiin!

Dan secara tak sengajaaa, ada banyak hal yaaang sama terjadi di antara kedua hari itu ( pas pergi kepulau bareng fafung dan bareng flascita). Perahu yang nanda naikin sama, dengan pengendara(?) yang sama, bang Awen! posisi duduk nanda di perahu pun sama dan… saat di perjalanan Bang Awen itu mengucapkan hal yang sama kayak dua tahun yang lalu! bener-bener flashback, namun dikelilingi oleh orang orang yang berbeda :’)

dua tahun yang lalu, bareng Fafung, di Pulau angsa dua……

Image

Image

Image

di pulau yang sama, lima hari yang lalu, bareng Flascita……

 

IMG-20130923-WA0035

563529_519094171517056_1526662585_n

1238968_519096228183517_2140138359_n

 

Saat ke pulau itu, Dua tahun yang lalu…. Kita (nanda dan Fafung) belum tau bakal masuk SMA mana… dan Alhamdulillah kami masuk SMANSa. Dan lima hari yang lalu, di pulau itu, nanda juga belum tahu akan menuntut ilmu di mana lagi selanjutnya… tapi insyaAllah itu pilihan terbaik dari Allah sesuai apa yang nanda usahakan! InsyaAllah FK UNPAD 🙂 dan ombak pantai itu lagi-lagi yang menjadi saksi, saat mata penuh harap ini memandang ke lalu lepas……..

Oktafiani Tri Ananda
28 September 2013
00:21

Allah’s Plan is always much better! :) (part 1)

*mungkin ini akan jadi tulisan dengan cara penulisan yang sangat random* ><V

Rasanya baru kemarin.. pulang dari Sitoplasma, malamnya bergalau ria sendiri menyepi di kamar, menuliskan selembar dua lembar untaian kata di buku puisi dan membulatkan tekad untuk jadi dokter.

Terus, keesokan harinya.. ngerjain tugas (jadi sekre solo song PKS), dan itu berarti mesti naik turun dari ruang osis di lantai satu ke ruang acoustic di lantai tiga. sebenarnya biasa aja, cuma pada saat itu tensi nanda lagi rendah banget(pas di cek waktu sitoplasma). Dan seharian itu bawaannya lemes.

Di saat nanda ngerasa lemes selemesnya akhirnya dari ruang acoustic nanda memutuskan untuk turun, niatnya ya mau istirahat bentarlah di ruang osis. Turun… dan sampailah kaki nanda di anak tangga terakhir menuju lantai satu. itu udah di puncak kelemesan. pokoknya rasanya kaki ini udah ga kuat, kayak disentil dikit bisa langsung jatuh gitu. (lebay juga ini mah^^)

Di lobby, ketemu sama ichakhai dan teman-teman lain yg melihat tampang nanda yg lemes dan mengiba (baca: maibo). “Kenapa nand? Istirahatlah lagi..”

Oke, nanda langkahkan kaki, di sambut dimas di depan ruang OSIS “nanda, sabar ya nand.. udah tau kan? hasilnya udah keluar. yang lulus kevin” dan, as usual, seorang dimas menyampaikan kabar serius atau bercanda sekalipun selalu dengan diiringi cengiran di belankangnya. so kepercayaan nanda akan statement dimas itu ya fifty-fifty. Di satu sisi “alaah, si dimas mah kerjaannya bercanda mulu.”. Di sisi lain “Tapi, ya emang bisa kan nanda gak lulus. so kenapa gak percaya nand?”

hmm okelah dimaspun ngeluarin laptop dari ruang osis dan…. taraaa! yak, its true =) hasil Seleksi Nasional Pertukaran Pelajar YES/AFS sudah keluar. Dan, yang lulus dari SMA N 1 Padang itu kevin. Ya, Alhamdulillah kevin lulus. fyi, murid smansa yg ikut seleksi nasional itu hanya nanda dan kevin, so.. kalau yang lulus cuma kevin, we could take the conclusion soon lah ^^

hm, setelah itu nanda masuk ke ruang osis. duduk mengamati lagi laptop yang ada di hadapan nanda. apa yang nanda rasakan? sedih? kaget? langsung galau to the max? atau malah senang? (berarti SMA nya insyaAllah cuma 3 tahun, dan bisa ngehemat umur buat kuliah di kedokteran 😀 ) *ya nggak mungkinlah seneng! ><. Absent mindedly, pikiran nanda itu rasanya kosong. Serasa lagi loading dulu.. serasa mikir.. mau nyebut “astaghfirullah atau alhamdulillah” serasa mikir dulu.. mau mulai galaunya sekarang atau nanti aja pas udah pulang kerumah *eh*

Yah, pokoknya apa yg nanda rasakan pada saat itu sangat sulit untuk diungkapkan. Perasaan yang punya dampak besar untuk hari-hari selanjutnya.

***

Mungkin bagi sebagian teman-teman yg nggak terlalu dekat sama nanda, mereka ketika dengar kabar “nanda gak lulus seleksi YES ke Amerika”, mereka langsung dateng ke nanda dan bilang *saat ngeliat tampang nanda yg lemes itu “halah nan.. apolo tu, ndak lulus ke amerika nyo mah. apa tu… biasa ajalah!” Oke, biasa aja. Its really easy to say biasa aja bagi mereka, Bagi mereka yg gak tau perjuangan buat sampai ke titik dimana nanda tersandung itu udah hampir kurang lebih setahun. Its really easy to say ‘biasa aja’ bagi mereka yg gak tau apa yg udah terjadi di bulan november, apa yg nanda rasakan saat nanda ikut ‘suatu kegiatan’ di bulan november, dan.. yah, its really easy to say ‘biasa aja’ but in fact im just a human yang bakal ngerasa perih saat jatuh.

Dan begitulah.. semenjak hari itu, nanda bertekad buat fokus lagi belajar di sekolah. Mengejar hal-hal akademis yang sudah banyak keteteran selama ini. Rasanya ingin balas dendam positif gitu! Biasanya energi energi saat jatuh itu kalau dikumpulkan bisa jadi tenaga besar buat bangkit jadi lebih baik lagi ‘insyaAllah. Fokus. Fokus.

Nanda coba untuk membuat tanda silang di sebuah halaman di buku impian nanda, di atas tulisan ini :

Salah satu Impian :
Lulus seleksi YES. Be a really good exchange student. Belajar mandiri dan menemukan pengalaman,teman dan pengetahuan baru selama setahun di negeri orang. Berusaha mengharumkan nama bangsa, dan menunjukkan mereka Islam yang sebenarnya. InsyaAllah, I will \^^/

Sembari mencoba untuk ikhlas membiarkan ada tanda silang yg tertuang dari tinta spidol berwarna pink itu, nanda juga menambahkan dibawahnya, masih dengan tinta pink itu : “Rencana Allah pasti lebih baik nand! dan juga.. Jangan pernah ngelupain mimpi ini…”

*to be continue…

A ‘little’ Story about us : me and the awesome roommates :’)

Go out, meet new people. We would not know what they might give us. (Alanda Kariza)

Well, i agree with this quote  🙂 Banyak pelajaran, pengalaman, cerita yang bisa kita dapatkan dengan bertemu orang-orang baru. Tapi kali ini, post kali ini bukan tentang bertemu orang baru secara general, tapi lebih spesifik lagi, yah i wanna tell about my roommates. Mereka, teman-teman yang baruu nanda kenal, dan waktu yang kita habiskan bersama itu cuma kurang lebih seminggu dalam beberapa events (camp, pelatihan,lomba,dll) .. But, the bitter, sweet and stories between us still linger in my mind, until now! ^^Here they are :

  • Dini and Zulaikha (SISFAC- Singapore Indonesia Student Friendship Adventure Camp 2011 @Bukittinggi,Indonesia)

    Nah, honestly SISFAC ini adalah kesempatan pertama kali dimana nanda bisa ngerasain pengalaman baru, dapet ilmu baru, ketemu sama orang-orang baru dalam format acara di luar kegiatan sekolah. How could i get a chance to join this camp? Panjang ceritanyaa >< Yang pasti, di sini nanda masih sangat grogi dan belum berpengalaman. hihi

    One day before camp, nanda ketemu sama Andini Fatimah Azizah, a really hyper girl ^^ Dini ini dari jakarta. Kejadian yang dilalui bareng dini yang nanda inget itu.. kocak semua! XD mulai dari.. Panik sana-sini karena keran di kamar mandi yang bocor di kamar kita, terus pas malemnya.. kita panik bareng karna nanda ngehilangin kunci kamar >< haha, padahal kata ma’am baby(a kind camp instructor waktu itu) ‘we just have 5 minutes to change our clothes to batik!’ paniiiiik, dan setelah kita bisa masuk karna dpt kunci baru dari pihak hotel, jeng jeng! kunci koper dini juga ilang! hahaha.. ampun memang kelakuan kita berdua… Untung aja kita lumayan tepat waktu buat balik ke tempat acara flag hoisting ceremony waktu itu (setelah lari-larian, mandi keringat beeeuh) ^^”

    Nah, ternyata satu kamar itu diisi 3 orang. Satu dari sumatra, ya thats me! Satu dari Jawa, itu dini. dan satu lagii dari Singapore : Zulaikha! yap, me and dini got a new roommates! 🙂 Really glad to have her in that room, orangnya comel :3 pinter dan ramah. Honestly, on the first time we(me and dini) met you, we couldnt understand and hear you words clearly! ^^” she talked in singlish at first, dan itu terdengar asing di telinga kita, para gadis Indonesia hihi ^^V dan ternyataa……. dia itu bisa bahasa melayu. -___- kenapa tak cakap daritadi jee la mak ciik?

    Dini and Zulaikha, still remember?
    Waktu kita manjat-manjat dari balkon kamar kita buat pindah ke kamar sebelah, waktu kitaa ribut tengah malam hanya karna ‘guardian angel’ and its stuff! Since both of them are a really hyper and friendly girl, I learn from them how to make new friends easily too ^^ miss you andin and zuuu…roommate, friends, school, camp activities, bukittinggiAndin, Zulaikha and me @balkon at one of Parai Hotels’ room, Bukittinggi 🙂

  • Muti'ah Nurul Jihadah (Pelatihan dan Temu Kader Pelopor Tata Ruang 2012 -Bali)

    Muti, anak sman10 padang yang satu ini ramah dan sabaran banget orangnya ^^ Beda roommate, beda juga suasananya di kamar.. kalau tadi habis kecapekan sana-sini bareng andin dan zuu yang hyper, nah bareng mutii inilah where i can take a rest calmly.. 😀 karena emang muti itu orangnya kalem.. dan yg enaknya kalau sama muti kita bisa saling inget2in buat ttp ibadah di tengah kepadatan jadwal pelatihan waktu itu.. Mutii, ini juga temen curhat yang sangat kepooo, hhaha gapapalah.. Tapi sepertinya me and muti has many same dreams for our future, oke samangaiik girl! aaand.. Ana Uhibbuki fillah, ukhty ^^

    Hal yang tak terlupakan sama muti itu, waktu kita lagi semangat2nya bangun cepet, terus shalat subuh dan mandi… daaan langsun keluar kamar buat ngejar-ngejar ngeliat sunrise di pantai Sanur.. haha, kayak anak kecil ngejar-ngejar gerobak ice cream gitu.. takut kelewatan.. soalnya kan jarang2 bisa liat sunrise di situ 😀
    Trus, waktu kita di jakarta.. belum ada jadwal kegiatan dan alhamdulillah kita nginep di padepokan pencak silat TMII, seberangan sama mesjid at-tiiin yang adeem banget itu. Berkunjunglah kita ke sana, nyari kantin deket sana bareng-bareng karna perut kita emang udah laper, terus shalat ashar di sana… Mesjidnya, subhanAllah sekaliii…. :’)

    hmmm, doa nanda : semoga kita sama-sama bisa jadi penulis muut,, dan sama2 bisa menggali sebagian kecil dr ilmu Allah yang dikasih nama ‘Biologi’ ituuu.. dan mimpi-mimpi laiiin yang jaun lebih keren daripada yg udah nanda sebutin ini.. Aamiiin 🙂

    Dan untuk muti : berhenti menertawakan apa yang nanda ceritakan di bandara soetta pas di gate 1B ituuu. Malu tau mut ><

    Camera 360

            Muti, waktu di masjid At-tin, TMII 🙂

  • Hikmashanti dan teman-teman kader Taru dari Bengkulu ( Temu Kader Pelopor Tata Ruang- TMII, Jakarta)

    aaaaa…. shantiiiii, muslimah tergombal yang pernah ada!  *peace shantii cantiik ^^v cewek asal ternate  yang jago astronomi ini(anak osn, keren yak :D) hmm.. agak susah mendefinisikannya. haha, shanti itu baiiiiiik banget sebenernya, tapi caranya mengekspresikan kebaikan itu agak berbeda dengan orang pada umumnya (apa sih?)

    Shantii ini kalau udah ketemu sama muti, kerjaannya langsung ngegosipin nanda.. di depan orngnya pula! (itu namanya gosip gak ya? ><) pokoknya kalo udah sama shantii, ada aja yg jadi korban bulan-bulannya (and it always be : me-_-)
    Aaaa… bagaimanapun ulahnya shanti, cewek yang suka dan bangga banget pake batik ini, tapi tapi honestly, dia roommates yang paling ngangenin… (eh, kok bilang gini sih nand?! pasti jadi geer tuh anak :p)

    Shantiii, kapan lagi aku bisa balas menertawakanmu, trus kamu bilang : “nanda, kamu tahu? Air mata wanita yang sholeha itu bagaikan………..*panjang deh gombalannya* hha.. yah i miss youu mbaak ^^
    I learn how to be a ‘teman yang menyenangkaan’ from her 🙂

    Nah, kalau temen-temen dari bengkulu : Lince’, puja dan Nisa itu temen baru yang baiik dan care banget. Masa’ waktu itu nanda cuman kecapekan (Bulan Oktober-November itu pdat sekali : Ujian mid, ngejar sana sini buat complete afs/yes online application, persiapin Smansa Islamic di sekolah, dan pd saat itu langsung ikut kegiatan ini, gimana nggak drop><) dan sebenernya nnda cuma butuh tidur. Tapi merekanya khawatir dan malah manggil panitia yg lewat di depan kamar. Sempet ditanyain ‘ Atau mau dibawa ke rumahsakit aja? kita coba ke UGD nya?’ kata bu panitia. Nanda yg waktu itu baru bangun tidur lgsg shock. dalem hati… “loh? i just need some sleeping time kok buk. Malah jadi makin ribet dan panik sendiri kalau harus dibawa ke RS ^^”

    Thanks for taking care of me, tengah malem bikinin teh anget :’) aa.. teman semoga kita bisa ketemu lagi jadi nanda bisa bales budii sama kebaikan2nyaa.. Jazaakumullahu khairan ^^

    Camera 360
    Nisa, Lince'(Bengkulu),  me, Shanti and mutii di depan kamar K2 ^^

    • Dinda dan Upi  (Pembekalan SISLAC- Singapore Indonesia Student Leader Adventure Camp)

      Dinda, cewek bertampang indo yang ternyata tulen orang Indonesia 😀 Baik and asiik orangnyaa.. Pas lagi sekamar sama dinda ini nnda dapet kabar dari kevin kalau ada online application form buat diselesain sebelum seleksi Nasional YES/AFS. Dinda yg nyaksiin gimana paniknya waktu itu, nnda nyuri2 waktu buat ngerjaiin formnya.. dan bahkan pas hari terakhir pembekalan.. nanda ngerjain formnya sampai tengah malem, sampe jam 2an gitu dibantu bang iwa(yg datang dr kostan ke wisma) dan dinda jadi ngungsi buat tidur di Kamar Upi, temen dari bengkulu.. Sorry ya dinda… ><

      dan makasih buat upi yang udah bukain pintu kamarnya, maaf ngetok2 tengah malem ^^ Upii ini asik banget diajak cerita2, ramah orangnya.. huaa kangen dinda sm upiii deh! u.u
      From dinda, I learn how to be cool, and keep smiling eventhough i’m in a hot water(trouble) and i learn to be a kin and caring person, thanks upi =)

      Camera 360                                                          Me with dinda.. a nice rommate and groupmate in the camp! ^^

      roommate, bus, high school, camp, bestfriend
      Nanda bareng upii… di bus menuju bandara \^^/

      • Avi and Yunaaaa (Seleksi Nasional YES/AFS 2012 Batch 3)

        Nah, Aviiii and yunaaaaa \^^/ Pengalaman sekamar sama mereka ini unexplainable banget… h h.. dari luar kita bertiga kelihatan kalem, tapi nyatanya di dalem kamar.. waduh XDAvi ini dari Samarinda, dia bukan temen baru lagi karena kita dulu udah pernah sama2 ikut pelatihan dan temu kader pelopor tata ruang di Bali dan di TMII dulu.. Dan Yuna juga buka temen baru, kan sama2 dari chapter Padang. I dont know, sekamar sama mereka ini entah anugrah atau musibah. hihi, Karena berhubung kita bukan baru kenal lagi, jadi kita bisa langsung akrab( akrab? lebih tepatnya menggila gak jelas ><)

        Pokoknya gak bakalan lupa sama avi yang ternyata gak bisa berhenti ngobrol itu.. hihi, Avi ini baik dn asik banget. Bikin orang ngakak mulu kerjaannya. Hanya di saat kita shalat dan mandilah saat-saat kita berhenti mendengar ocehannya avii.. Yuna juga gitu, padahal dulu nanda taunya yuna itu pendiam.. ternyata out of expectation! yuna juga kurang lebih sama seperti aku dan avii..hihi ^^

        Gak akan pernah lupa waktu tanda kelebihan beban liftnya bunyi waktu avi masuk.. ^^ trus pas liftnya gak naik-naik karena nanda lupa mencet tombol(udh lumayan lama melongo dlm lift, hhi) dan pas nanda sm avi gak punya tempat yg deket buat nyermin, kita memilih buat ngaca dan ngerapihin jilbab di dlm lift. malu-maluin memang ><

        aih, dan kabar gembira yang baru-baru ini dateng dari Avi dan yuna : Mereka berdua lulus seleksi Nasional kemarin! Aaaa… alhamdulillah :’) berjuang yaa temaaan. I dont know, but  i really want to gather again with both of you after you go to USA and then come back home. I just really want to share many things with you apiyuna… Yes, I really am. Jangan pernah ‘harat-harat’ dan melupakanku disana yaa ^^d

        Camera 360Foto kita bertiga, pas udah mau balik ke daerah asal masing-masing. Duh, keliatannya kalem ya di sini. padahal sifat aslinya, sangat kontras, saudara-saudara! 😀

        friends, indonesia                                                                                                        Nanda & Avi 🙂

        2012-11-26 10.34.44
        Me and Yuna =)

        Thank you for all of the experiences and lessonns you’ve given to me rommates. And i shoul be grateful for all of these. Alhamdulillah i can find and meet the friends like you in my life =) Hopefully we can meet again later, someday. InsyaAllah!

        Oktafiani Tri Ananda
        28 Desember 2012
        12:00

Cintanometer

by : Tere Liye

Cintanometer

Di kota kami, walau terletak persis di tengahtengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian, awan hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Jangan salah sangka dulu, kota kami memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat dukundukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.

Di sini banyak penemu. Yang terhebat di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan seribu penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.

Tetapi suatu hari, dewan kota mendadak mengadakan pertemuan. Tentu ada hal super penting yang telah terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk pertama kalinya dalam lima ratus tahun terakhir. Para tetua risau sekali tentang sesuatu. Tentang mengapa angka pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan dua tahun belakangan justeru minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan penduduk tetap seperti itu, dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun mendatang, penduduk kota ini akan musnah.

Lama berdebat akhirnya ditemukanlah muasal permasalahannya. Yaitu karena angka pernikahan anakanak muda turun amat tajam. Kenapa angka pernikahan turun amat tajam? Karena anak-anak muda ternyata susah sekali menemukan jodohnya masing-masing. Kenapa anakanak muda amat susah menemukan jodoh? Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. Dan kenapa angka penolakan cinta meningkat tajam? Karena anakanak muda itu terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dihinakan, lebih sial lagi akan dikenang sepanjang masa: sebagai pecundang.

Tetua kota ramai lagi berdebat mencari solusi masalah pelik ini. Bagaimana agar anak-anak muda itu tidak cemas dan takut lagi menyatakan cintanya? Akhirnya setelah berbagai usulan diterima, mulai dari yang sama sekali tidak masuk akal hingga yang malah tidak ada kaitannya sama sekali dengan akar permasalahan, solusi yang dimaksud disepakati.

Dewan kota akan menciptakan alat pendeteksi cinta. Sebut sajalah namanya cintanometer. Bentuk fisiknya kurang lebih mirip freehand telepon genggam yang kalian kenal selama ini. Dicantolkan di telinga, dan ia dengan kecanggihannya akan memberitahukan perasaan yang sedang dipikirkan oleh lawan jenis di hadapanmu.

Bagaimana caranya? Tidak jelas juga seperti apa. Terlalu rumit untuk dituliskan. Tetapi kurang lebih cintanometer akan mendeteksi gesture tubuh, kadar pheromon, getaran arus listrik yang timbul dari detak jantung pasangan Anda, medan elektromagnetik yang muncul dari sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola matanya, frekuensi dan lamda getaran suara saat pasangan Anda berbicara dan berbagai pemicu kimiawi lainnya yang terus terang aku juga tidak terlalu mengerti.

Dengan cintanometer itu, anak-anak muda tak usah malu lagi menyatakan cinta. Alat ini seratus persen akan menjamin kalkulasi variabel yang ditangkapnya benarbenar nyata. Deviasi kesalahannya kecil sekali, sehingga kalian tak usah lagi khawatir ditolak mentahmentah.

Mendengar kabar tentang cintanometer, penduduk kota kami dilingkupi kegairahan yang luar biasa. Mereka belomba-lomba mencari tahu sejauh mana kemajuan ilmuwan terbaik mereka menciptakan alat pendeteksi cinta tersebut. Tak sabar lagi mereka menunggu hari H peredarannya di toko-toko kelontong. Malah di tengah-tengah kota dipasang penghitung waktu mundur (countdown) menunjukkan sisa hari peluncurannya.

***

Dan ketika tiba hari H peluncuran cintanometer itu, kota kami heboh sekali. Inilah penemuan terbesar sepanjang masa. Muda-mudi berdiri mengantri membentuk kelokan puluhan kilometer di depan balai kota untuk mendapatkan alat pendeteksi cinta. Lelaki tua dan wanita tua yang tak laku-laku juga terselip hampir di setiap dua-tiga pengantri. Orang-orang tua yang sudah menikah pun ternyata ikut mengantri. Juga anak-anak di bawah umur.

Rusuh sekali antrian itu. Saling menyelak. Jangan pernah kalian meleng sedikit saja, alamat tempat berdiri sudah diisi oleh tiga-empat orang yang tak dikenal. Semakin lama kerusuhan dalam antrian semakin meluas. Masalahnya ternyata pembagian alat tersebut agak sedikit terganggu karena baru saja tetua kota menyadari mereka sama sekali belum melakukan analisis dampak lingkungan atas cintanometer ini. Tak ada yang pernah berpikir hal ihwal yang akan terjadi akibat beredar bebasnya alat ini, apalagi lihatlah batasan umur para pengantri di depan sana.

Semakin siang antrian semakin kusut. Maka tetua kota tak ada pilihan lain kecuali mulai membagikan cintanometer itu. Lupakan dulu soal analisis dampak lingkungan tersebut. Yang penting antrian penduduk kota tidak berubah menjadi anarki.

Mereka berebut menyambar kotak-kotak kecil itu. Untunglah tak ada satu pun warga kota yang mengantri menginginkan benda tersebut yang tidak kebagian. Lepas senja semuanya bisa pulang dengan senyuman lega. Berharap banyak atas benda kecil tersebut.

Tetapi, wahai, tahukah kalian apa yang terjadi sekejap setelah itu?

***

Kota kami tiba-tiba berubah menjadi lautan cinta. Lihatlah anak-anak muda, mereka seolah-olah sedang berlomba-lomba menyatakan cintanya. Di sepanjang jalan-jalan, di taman-taman kota, di kafekafe, di pelataran parkir dan pertokoan, di ruangruang kelas, di atas mobil-mobil dan gerbong kereta, di dalam lift dan toilet, hingga di altar-altar suci rumah ibadah yang seharusnya hanya dipakai untuk berdoa.

“Clarice, aku cinta padamu?” seru seorang pemuda dari salah satu meja, di kafe tengah kota.

“Aku sudah tahu, Leonardo!” gadis itu juga berteriak sambil memperlihatkan alat itu di telinganya. Mereka berdua tertawa. Juga tertawa bersamaan dengan seluruh isi kafe lainnya. Anakanak muda yang dimabuk asmara. Bersemu merah saling menggenggam tangan.

“Patrice, andai kau meminta bulan, tentu tak sungkan aku berikan….”

“Sudahlah, Desovov….” dan gadis di meja satunya lagi itu melompat menyeberangi piring-piring.

Sungguh. Padahal kemarin, kemarinnya lagi, minggu-minggu lalu, dan sepanjang hari selama setahun terakhir ini gadis itu hanya mampu berdiri menatap pemuda pujaannya lewat begitu saja di gang bawah sana dari balik teralis jendela. Terlalu gentar untuk mengakui. Terlalu takut untuk menyatakan cintanya.

Kemanapun kau pergi malam itu, maka yang akan kau dapati hanyalah anak-anak muda dengan trendi mengenakan cintanometer di telinganya, berjalan kesana-kemari coba menemukan pasangannya. Saat alat di telinga mereka berkedip-kedip, mereka berseru kegirangan. Itu berarti ada seseorang yang mencintainya radius seratus meter darinya.

Apa yang terjadi kemudian? Tergantung. Jika pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata tampan dan memang pujaan jantungnya selama ini, maka tak sungkan ia menggamit tangannya, menatap tersenyum dengan muka bersemu merah. Tetapi jika ternyata pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata jelek dan malah sosok yang dibencinya selama ini, maka dengan terbirit-birit ia akan lari menjauh.

Amat beruntung seorang pemuda atau gadis yang berkali-kali cintanometernya berkedip-kedip. Itu berarti ada banyak pilihan baginya untuk menyatakan cinta. Dan di tengah-tengah keramaian cinta ini, ironisnya, ada saja pecinta yang tidak sedikit pun cintanometernya berkedip-kedip.

Awalnya mereka tidak terlalu panik. Mungkin alat miliknya rusak atau baterainya habis. Mereka buru-buru mencoba meminjam alat pendeteksi cinta milik temannya, berharap nasib akan berubah. Percuma. Semua alat yang dikeluarkan oleh balai kota selalu dalam kondisi seratus dua belas persen oke.

Maka tinggallah mereka merana menjadi penonton pertunjukan cinta di kota kami. Tetapi siapa peduli dengan orang-orang yang tidak beruntung itu? Jumlah mereka sedikit. Dan bukankah dengan demikian, alat pendeteksi cinta itu membantu seleksi genetik kota kami. Pemuda atau gadis yang tak pernah dicintai oleh seseorang maka sudah sepatutnyalah tidak meneruskan keturunan genetiknya, demikian kesimpulan tetua kota.

Mendengar laporan meningkatnya angka jatuh cinta anak-anak muda di kota kami, tetua kota tersenyum lega. Permasalahan besar itu nampaknya teratasi sudah. Mereka bersulang di balai kota, berseru bersama memuji kepintaran para penemu. Tanpa sedikit pun menyadari laporan itu ternyata belum lengkap benar. Karena pelahan-lahan muncullah berbagai masalah akibat cintanometer itu.

***

Vyrzas, lelaki baya berumur enam puluh tahun, duduk menangis di pojokan kota sambil mengelus kepala botaknya penuh penyesalan. Dengan alat itu, barusan ia tahu bahwa sesungguhnya semenjak empat puluh tahun silam hingga hari ini, Veronica, kembang kampus universitas kota kami, ternyata amat mencintainya. Ah, mengapa alat ini baru diciptakan sekarang? Sesalnya. Lihatlah, wanita tua itu sudah beranakpinak dengan pria lain. Ia dulu ternyata terlalu naif menganggap dirinya jelek, bodoh dan sama sekali tidak berguna bila dibandingkan dengan gadis itu yang amat cantik, pintar dan populer.

Tetapi kesedihan Vyrzas bukan masalah serius bagi tetua kota saat ini. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Toh itu murni kesalahan Vyrzas. Yang lebih penting dan mendesak, lihatlah berbagai pertengkaran yang segera menyeruak di rumah-rumah penduduk.

“Aku tak menyangka hatimu busuk selama ini!” Nenek itu berseru kencang dari salah satu rumah.

“Apa maksudmu?”

“Lihat ini!” Ia berseru sambil memperlihatkan telinganya. Kakek itu tersumpal mulutnya.

“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat mukamu di rumah ini. Pergi! Pergi bajingan!” Nenek itu menangis dalam marah. Ia tidak menyangka pemuda yang dinikahinya enam puluh tahun silam ternyata sedikit pun tidak mencintainya. Jangankan berkedip, mendesing pun tidak cintanometer di telinganya. Ternyata suaminya menikahinya semata-mata karena kedudukan dan harta orang tuanya.

Segeralah berbagai borok suami terbongkar. Berbagai aib istri terbuka lebar-lebar. Banyak sekali pemuda yang menikahi istrinya hanya karena harta, kekuasaan, atau kecantikan wajah. Dan sebaliknya gadis-gadis yang menikah hanya karena tebalnya kantong suaminya, rumah-rumah, mobil-mobil terbang dan berbagai kemewahan dunia lainnya. Mereka bertengkar hebat malam itu.

Cintanometer benar-benar menelanjangi para pelaku selingkuh. Suami-suami yang tidak cinta lagi melihat tubuh istrinya. Suami-suami yang lebih suka menghabiskan malam-malan di bar-bar kota. Alat itu juga membantu anak-anak yang tak beruntung menerjemahkan perasaan sesungguhnya dari ayah atau ibu tiri mereka. Dengan segera di tengah-tengah lautan cinta yang terjadi di jalanan, harmoni rumahrumah tangga penduduk kota kami satu demi satu rontok.

Tetua kota segera berembug membahasnya. Satu dua tetua kota berkata pelan di tengah keramaian: ia memang dari dulu sudah khawatir sekali dengan alat pendeteksi cinta ini, sudah terlalu banyak penemuan tidak pantas yang telah mereka buat selama ini. Penemuan yang menebas tata aturan kehidupan. Cinta adalah urusan langit dan tidak sepantasnya mereka mencoba mengakalinya.

Tetapi mayoritas tetua kota kami mengabaikan keluhan itu. Jika ada masalah yang muncul dari cintanometer itu maka anggap saja harga yang harus dibayar untuk mengatasi permasalahan pertambahan penduduk kota. Dan bukankah lebih banyak anakanak muda yang akan segera melangsungkan pernikahannya dibandingkan dengan rumah tangga yang hancur berantakan?

Malam itu juga putus. Cintanometer akan terus diedarkan.

***

Hari-hari berlalu menjadi setahun, setahun berjalan dirangkai hari-hari. Siang ini genap lima tahun semenjak penemuan itu pertama kali diluncurkan dulu. Lihatlah apa yang terjadi di kota kami. Bayibayi mungil kelihatan di mana-mana. Jumlah penduduk double. Krisis kepedendudukan itu lewat sudah.

Cintanometer selama lima tahun berturut-turut mendapat penghargaan Penemuan Terbaik Tahun Ini. Setiap tahun fiturnya di tambah, dibuat lebih gaya dengan model dan warna-warni mutakhir. Penggunaannya pun semakin friendly user, tidak berkedip, tetapi berbisik. Bisikan cinta yang bisa di setting sedemikian rupa, termasuk menggunakan suara artis favorit kalian.

Malah cintanometer oleh sebagian besar penduduk kota di usulkan agar ditetapkan sebagai penemuan terbaik sepanjang abad ini. Melihat situasi yang sedang berkembang dalam masyarakat, sepertinya wacana itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Masalahnya di tengah-tengah kegembiraan tetua kota, dan leganya perasaan anak-anak muda, ada sesuatu yang tanpa disadari pelahan-lahan merubah kehidupan kota itu.

Alat itu bagi sebagian orang ternyata dari hari ke hari secara pasti membuat kehidupan mereka menjadi sangat sistematis, terukur dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau seorang gadis yang berdiri cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya datang dan mereka bisa pergi satu bus, syukur-syukur bisa duduk bersebelahan. Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya, menyajak puisi-puisi, menggenggam tangan sang kekasih. Tidak ada lagi lipatan suratsurat yang secara sembunyi-sembunyi dititipkan atau diselipkan di lemari sekolah, sekuntum bunga mawar yang dikaitkan di pintu rumah, atau seorang pemuda yang memetik gitar bernyanyi keras-keras di halaman rumah gadis idamannya.

Semakin lama, malah tidak ada lagi cokelat berbentuk jantung sebagai hadiah penanda cinta, tidak ada lagi balon-balon merah itu, tidak ada lagi cupid si peri cinta. Tidak ada lagi syair-syair kerinduan, soneta pujaan hati, tidak ada lagi irama ratapan kesendirian. Penduduk kota ini tidak memerlukan itu semua. Cinta pelahan-lahan namun pasti telah berubah menjadi barang instan.

Jika cintanometer berkedip-kedip itu artinya cinta. Jika tidak berkedip-kedip maka tidak ada cinta. Lama-lama penduduk kota mulai lupa apa itu cinta, bagaimana sesungguhnya perasaan seseorang saat jatuh cinta? Mereka hanya mengerti soal kedip dan tidak mengedip. Bisik atau tidak berbisik. Lama-lama mereka malah kehilangan kosa kata cinta? Siapa lagi yang perlu kata cinta jika kau bisa menterjemahkannya dengan mudah melalui sebuah alat mungil yang canggih? Berbisik berarti oke, tidak berbisik cari yang lain. Sesederhana itu.

Maka kata cinta dihapuskan dari kamus besar bahasa kota kami, karena tak ada lagi yang mengerti apa maksudnya. Berikut kata-kata yang menyerupai dan menyertainya. Kalian tak akan lagi menemukan kata: kasih, sayang, rindu, bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, bujang tua, jomblo dan kata-kata lainnya.

Dan ketika aku sempat berkunjung ke kota itu minggu lalu. Dalam ramainya ruang pesta di balai kota, aku tersenyum bersalaman dengan penduduk kota. Berkata mengenalkan diri, “Namaku Jun. Aku pengelana hati. Datang dari jauh mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” mereka menatapku aneh sekali.

Seperti kalian sedang menatap mahkluk dari galaksi lain.

***