Sajak Seonggok Jagung (WS. Rendra)

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena

Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…

Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

Sajak Seonggok Jagung, WS. Rendra

Kemarin, sepulang sekolah secara spontan dipanggil guru B. Indonesia, Pak Rama untuk bacain puisi ini, di lobi sekolah –” Awalnya ngerasa gak tertarik, dari judulnya yang hanyalah ” seonggok jagung”, tapi ternyata isinya daleem banget. Inilah yang sangat saya rasakan, dan yang membuat saya bingung dengan Sistem Pendidikan Zaman ini. Sistem dimana siswanya menjadi budak nilai-nilai, peringkat, angka-angka yang semu, kuantitas bukan kualitas, jadi ya begitulah jadinya…. ketika para pemuda dihadapkan dengan seonggok jagung di dalam kamarnya….

miris.

Education means inspiring someones mind, not just filling their head. (Katie Lusk)

Pendidikan oh pendidikan, semoga bisa terus menginspirasi para pemuda dan anak-anak yang haus akan ilmu… Bukan malah membuat mereka takut atau merasa terpaksa hanya karena sistem yang memaksakan standar tinggi…

agak kasihan juga ngelihat gimana anak kelas 2 SD zaman sekarang ada yang les Matematika di rumah gurunya pas malam hari. semoga diimbangi sama pendidikan moral dan inspirasi jugalah sama gurunya.

Badan kita boleh terjebak dalam Sistem, tapi akal dan hati kita semoga tetap berada out of the box, supaya nanti kita gak jadi orang yang bingung mau melakukan hal apa jika dihadapkan pada seonggok jagung! Semangat Pemuda Indonesia.. Masih ada secercah harapan……. :’)

Advertisements

Saat suatu hari (yg pasti) nanti tiba… aku ingin

 

Adikku.. Dia pergi, dengan senyuman terakhirnya.
Dan seseorang, yang belum pernah kukenal.. Dia juga pergi, dalam posisi terdekat denganMu, dalam sujud terakhirnya
 
Bila saat itu tiba Tuhan, aku juga ingin.. Pergi, dengan cara terbaik yang tlah Kau rencanakan, untuk sebuah pertemuan terbaik itu..
 
Entah kapan.. Entah dimana..
Tap hari itu pasti.
 
Maka saat itu. aku ingin… Pergi, lalu datang ke dunia baru yang lebih indah… aku ingin.
izinkanlah…. kabulkanlah Ya Rabb…

 

Tempat yang indah..

Apabila kamu pernah terpeleset, terbawa, terseret, atau memang sengaja berlari dan menemukan suatu tempat yang indah.. Maka ajaklah teman-temanmu, dan orang~orang yang kamu sayangi. Karena siapa tahu di saat kamu tersesat dan lupa akan jalan menuju tempat yang indah itu padahal kamu rindu, mungkin orang~orang yg telah pernah kau perlihatkan tempat itulah yang akan menuntunmu lagi.. Mengingatkanmu akan jalan yg bisa membawamu untuk melihat kembali tempat yg indah itu.. ❤

Bulan Ramadhan. Selesai pesantren, sesaat setelah tadarus bersama seorang sahabat. Terus tiba~tiba nangis dan… yaa begitulah~ aku bersyukur telah ada yang mengajakku ke tempat itu lagi.. :’)

Hanya sebuah analogi. Please See beyond what eyes can see ^^

-Oktafiani Tri Ananda

Again, a book has inspired me.. so much!

Life lessons learned!

Itu yang nanda rasain setelah baca buku yang satu ini! Mungkin udah terlambat buat tahu tentang buku keren yang satu ini : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Mungkin juga udah telat karna nanda baru tau sama penulisnya (Tere Liye) yang bisa mencurahkan konsep-konsep bermakna tentang kehidupan lewat untaian kata-katanya yang luar biasa menyentuh itu. Tapi ya mending terlambat deh daripada ngga sama sekali! 😉

Novel yang mengaduk-ngaduk perasaan ini udah ngajarin banyak hal dan sekaligus menjawab pertanyaan dasar yang ingin ditanyakan kebanyakan orang dalam menjalani hidupnya. Misalnya, kenapa kita terlahir dalam keadaan seperti ini, apakah hidup itu adil, apa makna kehilangan, kenapa seseorang justru merasa begitu hampa saat udah memiliki segala-galanya, dsb.

Kenapa aku terlahir dalam keadaan seperti ini.. Apa manusia memang tidak punya hak untuk menentukan ia akan terlahir menjadi seseorang yang bagaimana.. Mengapa aku tidak dilahirkan seperti mereka(yang lebih beruntung, lebih baik kehidupannya) saja.. Mungkin pertanyaan ini secara tak sadar juga pernah terbesit di pikiran kita. Dan di buku inilah aku mendapatkan jawabannya :

Begitulah kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh semua sudah ditentukan…

Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati, kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. Setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya
ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami… Tidak ada yang melanggar aturan main itu. Tidak ada bunga melati yang layu lebih lama. Atau anak buaya yang menjadi pejantan padahal suhu udara induk mengeraminya memastikannya menjadi betina. Hukum Alam. Sebab-akibat.

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu… saling mempengaruhi, salig berinteraksi… Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.

:’)

Kutipan lain, tentang kebaikan yang seharusnya tak dilakukan dengan cara sembarangan.

Ah, terkadang orang-orang yang terlanjur memiliki ambisi memang bisa berbuat sejahat itu… Seharusnya orang itu tidak lupa, tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk,dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.

Kutipan lain, tentang manusia yang seharusnya sadar bahwa Tuhan menciptakan hari esok agar kita dapat berusaha lebih keras lagi. Jangan terpaku masa lalu..

Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk merubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian.

Mengapa hidup ini ‘rasanya’ tak adil? Dari sinilah aku semakin yakin, bahwa keadilan memang bukanlan sesuatu yang kasat-mata. Hanya jiwa-jiwa tertentu yang memiliki kesempatan untuk meyakini bahwa hidup ini adil.

Apakah hidup ini adil? Ah, sayang kita selalu menurutkan perasaan dalam hal ini. Kita selalu berprasangka buruk. Kita membiarkan hati yang mengambil alih, menduga-duga… Tidak puas menduga-duga, kita membarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya. Kemudian tega sekali, menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku kita.

Apakah hidup ini adil?

Pembalasan di dunia hanya sepotong kecil dari keadilan langit. Ada cara lain bagi Tuhan untuk membuat timbangan keadilan itu berjalan baik. Kau dan sebagian besar orang di muka bumi boleh jadi mengingkarinya, tapi itu nyata, pembalasan hari akhir itu nyata. Senyata kau sekarang yang sedang membaca tulisan ini.

Hanya satu cara untuk berkenalan dengan bentuk-bentuk keadilan yang tak kasat mata itu. Selalulah berprasangka baik. Aku tahu kata-kata ini tetap saja sulit dimengerti . Aku sederhanakan bagimu, maksudnya adalah selalulah berharap sedikit. Ya, berharap sedikit,memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan.

Dan, untuk kutipan yang satu ini, aku sangat setuju. Tentang Bagaimana kita seharusnya menghadapi kejadian buruk yang menimpa kita..

Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.

Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak peduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkannya. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya.

Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. Satu hal, yaitu : berbagi. Ya, berbagi apa saja dengan orang lain. Tidak. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tapi dengan berbagi kau akan membuat hatimu damai. Hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega…

Nah, kalau yang satu ini, buat jadi prinsip hidup kita..

Orang-orang dalam hidup sudah seharusnya memiliki tujuan. Yang dengan menyelesaikan tujuan itu maka dia akan tersenyum saat maut menjemput.

Tidak peduli sekecil apapun tujuan hidup itu, yang penting mereka bersungguh sungguh melakukannya, membuatnya nyata.

Seseorang yang memilki tujuan hidup, maka baginya tidak akan ada pertanyaan tentang kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan darinya., kenapa dia harus dilemparkan lagi ke dalam kesedihan. Baginya semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan semuanya untuk menjemput tujuan itu.

Sekarang, kalau pernah terbesit di fikiranmu, bahwa orang kaya, tampan atau cantik, terkenal, orang yang memiliki segala-galanya itu hidupnya sudah sangat bahagia, maka mulailah berpikir ulang. Karena kenyataannya orang yang berlari mengejar dunia hanya akan menemukan kehampaan bila telah sampai pada puncaknya. Seperti yang ada dalam kutipan novel ini :

Kau terjebak keinginan keinginan dunia. Kau mencintai dunia persis seperti sekerumunan orang-orang lainnya yang amat keterlaluan mencintainya. Dan lazimnya para pecinta dunia itu, maka sungguh dia tidak akan pernah terpuaskan oleh yang bisa disediakan dunia.

Kosong. kau hanya menemukan kosong. Hampa. Kau mirip sekali seperti anak kecil yang sudah memiliki mainan, saat melihat anak lain memiliki mainan yang baru, kau juga menginginkannya. Kau mirip sekali dengan kelakuan hampir seluruh orang yang pernah terlahir di muka bumi ini.

Tapi apapun latar belakangnya, orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia tetap tidak akan pernah menemukan jawaban dari dunia.

Dan kutipan yang terakhir, yang bikin novel ini jadi bener-bener inspiring. This quote is really a cool ending of a novel.

Ada satu janji Tuhan. Janji Tuhan yang sungguh hebat, yang nilainya beribu kali tak terhingga  dibandingkan menatap rembulan ciptaanNya. Tahukah kau? Itulah janji menatap wajah Tuhan. Tanpa tabir, tanpa pembatas… Saat itu terjadi maka sungguh seluruh rembulan di semesta alam tenggelam tiada artinya. Sungguh seluruh pesona dunia akan layu. Percayalah selalu atas janji itu, maka hidup kita setiap hari akan terasa indah…..

(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu)

:’)

Best Helper : Allah SWT!

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

-Ali ‘Imran(3) : 160