Keluarga Tanpa Batas

Pukul 23:03 

Waktu GH, waktu ruang angkasa, dalam imaji kita

………………………………………………………………………………………………

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas perjalanan ruang angkasa dalam imaji mu?
Mungkin kau lupa, kawan

Perjalanan kan membawa kita meroket lebih jauh dari pada angan luar angkasamu

 

Kau fikir kita sebatas ini?

Sebatas detik yang terpetik dalam arlojimu..

Mungkin kau tak ingat, kawan

Perjuangan kita tak sesingkat dugaanmu

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas kayu kayu lorong yang terpaku, atau

sebatas palu yang memukul kemudian membisu
Mungkin kita lupa, masih banyak paku paku memori yang ‘kan terpatri, nanti …
Mungkin kita tak ingat, masih ada palu semangat sahabat yang ‘kan memukul untuk bangkit kembali setelah jatuh, sekarang ataupun nanti..

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas kerlap kerlip bintang di atas sana
Lantas siang hari semangat kita sirna?
Kau lupa?
Impian kita lebih tinggi, lebih cemerlang.. bahkan dari gemintang yang berserakan malam ini

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas denting nada dan melodi
Sebatas gerak gerik langkah dalam tari
Sebatas lirik lagu ingatlah hari ini?
Bisa saja kau lupa

hari ini hanya awal

dari jutaan tali kebersamaan yang kan terjalin, seterusnya dalam perjuangan kita..

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas ratusan kepala yang bercengkrama sesaat saja
Lalu esok ku lupa kau siapa,

lalu lusa kau tak ingat ku siapa
Kau fikir…. kita…. sebatas ini?

 

Sebatas kain hitam yang terhampar?
Sebatas properti yang tergunting?
Sebatas lampion yang tergantung?

Sebatas boneka alien tegak di ujung sana?
Sebatas MFAF saja?

Tidak

Kekompakan kita bisa lebih dari batas itu

 

Karena kita.. Ped14tric

Karena kita… KELUARGA TANPA BATAS

 

Oktafiani Tri Ananda,

5 April 2015

Sajak Seonggok Jagung (WS. Rendra)

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena

Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…

Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

Sajak Seonggok Jagung, WS. Rendra

Kemarin, sepulang sekolah secara spontan dipanggil guru B. Indonesia, Pak Rama untuk bacain puisi ini, di lobi sekolah –” Awalnya ngerasa gak tertarik, dari judulnya yang hanyalah ” seonggok jagung”, tapi ternyata isinya daleem banget. Inilah yang sangat saya rasakan, dan yang membuat saya bingung dengan Sistem Pendidikan Zaman ini. Sistem dimana siswanya menjadi budak nilai-nilai, peringkat, angka-angka yang semu, kuantitas bukan kualitas, jadi ya begitulah jadinya…. ketika para pemuda dihadapkan dengan seonggok jagung di dalam kamarnya….

miris.

Education means inspiring someones mind, not just filling their head. (Katie Lusk)

Pendidikan oh pendidikan, semoga bisa terus menginspirasi para pemuda dan anak-anak yang haus akan ilmu… Bukan malah membuat mereka takut atau merasa terpaksa hanya karena sistem yang memaksakan standar tinggi…

agak kasihan juga ngelihat gimana anak kelas 2 SD zaman sekarang ada yang les Matematika di rumah gurunya pas malam hari. semoga diimbangi sama pendidikan moral dan inspirasi jugalah sama gurunya.

Badan kita boleh terjebak dalam Sistem, tapi akal dan hati kita semoga tetap berada out of the box, supaya nanti kita gak jadi orang yang bingung mau melakukan hal apa jika dihadapkan pada seonggok jagung! Semangat Pemuda Indonesia.. Masih ada secercah harapan……. :’)

Satu titik.

Satu titik. Gambaran dimana aku sekarang berada.

Satu titik yang aku tidak pernah menyangka kan berdiri disini sebelumnya.

 

Satu titik, mengajakku melihat ke belakang

untuk melihat titik titik lainnya yang telah terhubung menjadi garis dengan likunya yang khas.

 

Sering aku lupa cara mendefinisikan sesuatu.

Menjelaskan suatu hikmah dari perjalanan berliku di benakku.

Padahal seharusnya mudah saja menggambarkannya.

Analogi sebuah titik. Ya, satu titik saja. Sesimpel itu.

 

Satu titik, juga untuk mengilustrasikan bagaimana makna sebuah susunan kata yang baru saja kubaca.

Itu hanya bagai satu titik. yang menempel di dinding hatiku.

 

Ada titik yang putih, ia bersinar.

Banyak yang iri melihatnya.

Ada titik yang hitam, kotor.

Membuat keruh nurani yang menjadi tempat pijakkannya.

 

Dan perjalanan hidup inipun

sesungguhnya adalah untuk merangkai titik titik,

menghubungkannya dengan berbagai alur dan liku tersendiri

namun menuju kembali ke suatu tujuan akhir yang sama bagi setiap manusia.

 

Titik titik yang jika dilepas untainnya sebenarnya telah tertulis jauh sebelum titik itu sendiri  ada.

Dan titik itu juga sepertinya analogi yang cocok untuk menggambarkan kita.

Manusia,

di tengah lautan tak terhingga jumlah ciptaan yang ada di dalam pengawasanNya.

 

Titik.

tapi kita ada.

 

Satu titik saja,

bisa mempengaruhi banyak titik lainnya.

Satu titik,

bisa berarti miliaran makna luar biasa yang kan pengaruhi rangkaian sambungan titik selanjutnya…..

 

Oktafiani Tri Ananda,

19 Maret 2013

23:35

 

 

 

 

Pernahkah kau?

Pernahkah kau merasakan?

Bagaimana rasanya tersenyum,

Sangat lebar, dengan sabar dan tegar

Seakan-akan kau memang seperti itu

Padahal sungguh, hatimu menangis, terisak

 

Pernahkah kau melihat?

Hujan di luar sana, menemani sang langit senja

Seolah-olah percikannya mengenai dalam dinding-dinding hatimu

Yang telah basah tergenang oleh air mata tertahan

 

Pernahkah kau berlari menghadang badai?

Untuk menggapai pelangi yang kau impikan..

Telah jauh kau berlari, tanpa kenal lelah

Namun di saat selangkah lagi kau meraih keindahannya,

Kau tergelincir ke suatu jurang, dalam..

Kau tak berhati-hati

Dan kini kaupun harus mendaki lagi

Sambil mengumpulkan keping-keping cerita di mana semangat tersirat di dalamnya

Sambil merelakan butir-butir peluh dan air mata yang jatuh ke dasarnya

 

Pernahkah kau membayangkan?

Bagaimana rasanya saat tanganmu menggenggam sesuatu,

Dengan erat dan pasti.

Tapi ia tiba-tiba berubah layaknya es batu

Mencair perlahan di tanganmu..

Lalu kau menyaksikan genggamanmu terlepas,

Karena dingin, dan kau menggigil sambil memandangi semuanya

 

Pernahkah kau menemukan?

Sajadah yang suci itu tak pernah kering

Karena kau selalu menumpahkan air matamu di sana

Di setiap kali kau berkeluh kesah dan mengadu dalam sujudmu kepadaNya

 

Pernahkah kau membayangkan?

Bagaimana pilunya hatimu,

Saat orang-orang melihatmu tegar berdiri, seolah-olah tak terjadi apa-apa

Padahal kau tahu dengan jelas.. kau hanya berpura-pura!

 

Kau katakan pada mereka kau tahu akan melangkahkan kaki

ke arah mana selanjutnya

TAPI DI BALIK ITU SEMUA,

Kau sebenarnya bimbang,

bahkan takut untuk mulai menuliskan mimpi-mimpimu lagi

Kau seakan-akan lelah untuk berharap terlalu banyak kembali..

 

Pernahkan kau merasakan?

Bagaimana nikmatnya.. Saat senyuman orang-orang di sekitarmu

menjadi obat yang tak ternilai harganya

Saat rumput, bunga yang indah, dan burung-burung yang lincah beterbangan diatasnya

Seakan-akan menjadi alunan musik yang menghibur kegundahanmu

 

Seakan-akan semua hal yang kau lihat, dengar

dan rasakan di dunia ini,

di saat kau sadar ataupun terlelap,

Semua itu bagaikan kado terindah yang Allah berikan

 

Untuk menghapus air matamu

Untuk mengembalikan senyumanmu

Untuk mengokohkan kakimu agar dapat bangkit kembali

 

Pernahkah kau?

Pernahkah?

..

..

..

Alhamdulillah

aku,

pernah.

 

Oktafiani Tri Ananda

20 Desember 2012

Tak Seindah Langit Senja..

Kau boleh saja mengembara mencari arti kebahagiaan

sampai kau lelah

atau bahkan, malah kehilangan arah

 

Kau bisa saja mengunjungi negeri seribu menara

menjulang

membuatmu kagum terpana

 

Kau dapat menuliskan mimpimu di mana saja

lalu mulai berlari mengejar, berharap, berdoa

hingga berhasil kau raih, dan puas sekali rasanya

 

Kau pantas melangkahkan kakimu ke tempat yang termewah

dengan hartamu yang berlimpah ruah

membuat iri mereka, yang hidupnya biasa saja

 

Namun,

Jika saja kau cukup berani untuk jujur pada dirimu

Jika saja kau cukup tulus berdamai dengan hatimu

 

Kau akan temukan,

semua mimpi-mipi itu, kemewahan itu, menara nan menjulang, pengembaraan di jalan yang panjang..

 

Tak seindah langit senja.. Lukisan terindah di dunia..

Tak seindah langit senja.. Bukti keadilan Tuhan, siapapun bisa merasakan kehangatannya

Tak seindah langit senja.. Jutaaan warna indah yang bisa hiasi langit~langit hati yang haus akan kasih sayang~Nya

Tak seindah langit senja..

 

Gali sampai ke hatimu yang terdalam,

Jika saja kau mau merasakan

bahwa semua itu

Memanglah, Tak Seindah Langit Senja

(Oktafiani Tri Ananda)

Tuhan dengarkanlah.. “Aku ingin kembali”

 

Tlah Kau beri aku kunci

Tapi kesombonganku

Membuat kunci itu tak bertahan lama berada dalam genggaman

Jatuh,lalu terukir manis dalam dasar kenangan

 

Kau perlihatkan kepadaku cahaya nan luar biasa indah

Angin yang sejukkan jiwa

Damai yang membelai hati ini

Tapi keangkuhanku

Buat semuanya sirna

 

Tuhan

aku rindu..

Saat-saat ketika ku tersenyum simpul
Masa ketika kubuka ‘kado terindah’ darimu

Masa yang jadi kenangan indah

Entah kapan kan kurasakan lagi

 

Kini kusadari

Tuhan,ini salahku

Tak kumanfaatkan kunci yang kugenggam erat di sisiku

Tak kulanjutkan langkahku di tengah perjalanan yang kau sinari dengan cahaya itu

Maka dengan kuasamu

Kau renggut lagi semua itu

 

Maka kini..

Jikaku berlari kepadamu dan mengemis agar kunci itu kembali

Bolehkah,Tuhan..?
Jikaku berharap dan memohon agar cahaya itu bersinar kembali

Masih pantaskah aku..?

 

Tuhan

Aku ingin kembali

Tlah lelah aku merenung sendiri di keresahan nan tak bertepi

 

Tuhan aku ingin kembali

Menjemput kunci,merasakan kesejukkan itu lagi

Kumohon izinkanlah

Karna ini semua hanya untuk-Mu,karena-Mu, dan dengan izin-Mu

 

Maka..

Kumohon padaMu agar menuntun lagi.

Aku,yang ingin kembali

Jawaban

Kugantungkan harapan

 Akan adanya yang memberi jawaban

Tapi semua diam

Aku bagai diabaikan

 Kuberjalan mencari tahu

Kapan gundah ini kan berlalu

Seiring daun yang gugur satu per satu

Semua berlalu..

Meninggalkanku dan tanyaku..


Kini aku mulai berlari,berlari mencari solusi..

Hatiku terbirit~birit mengikuti semua ini

Langkah ku kian gontai,sementara tanyaku masih terurai

Tapi dunia tetap membisu.. sepi..

Dunia lelah memahami maksud jeritan hatiku…

Dan akupun lelah menyadari bahwa dunia masih saja membisu…

Di tengah jalan aku berhenti

Menyadari bisikan hati yang seharusnya kudengarkan semenjak tadi..

Aku tersungkur,,

Ku tengadahkan tanganku..

Mengadu kepada~Nya..

Kepada Tuhan Yang Maha Tahu..

Tanpa kata dan tanpa perlu meronta~ronta..

Jawaban kuterima dari~Nya

Dari Dia yang Maha segalanya..

Aku terpana,

Lega….

:’)

2 Agustus 2011

Oktafiani Tri Ananda