Tentang Bagaimana aku Memandangmu

 

Manusia.

Pada akhirnya aku mengerti bahwa yang terjadi di antara interaksi kita bukanlah sekedar efek domino. Dimana ketika si A memberi dampak kepada B maka akan diteruskan hingga mencapai Z.

 

Hubungan di antara kita semua  tak pernah  sesederhana itu.

 

Ketika aku melihat hubungan di antara kita semua, manusia, aku membayangkan untaian benang panjang berwarna-warni, saling berjalin, berpilin, menyebrangi dan melintasi satu sama lain hingga ketika kulihat dari kejauhan kita tampak seperti bola raksasa  yang terbentuk dari ikatan-ikatan warna yang saling mempengaruhi satu sama lain.

 

Banyak yang bertanya, mengapa seseorang seperti ini dan itu? Mengapa mereka melakukan hal yang menurut orang lain tidak cukup baik untuk dirinya?

Aku diam. Bukannya tidak peduli, aku hanya berusaha menyelidiki tentang seseorang itu, benang warna apakah dia, dan benang mana yang telah mengikatnya, melepasnya, menambah warnanya di antara jutaan benang bola raksasa yang saling menghubungkan kita.

 

Ada alasan mengapa seseorang berlaku begini, bertingkah begitu.

 

Pun juga kau.

 

Tulisan ini tentang bagaimana aku memandangmu, seorang manusia yang tak akan pernah lepas dari prasangka manusia lainnya.

 

Kau tahu? Ketika kabar buruk terus menghiasi perbincangan tentangmu. Aku tak kan pernah bisa percaya. Bagaimana mungkin? Pikiranku, dengan segala keterbatasannya bisa menilai kau, satu benang diantara bola raksasa yang saling melilit, dengan segampang itu saja, melalalui perkataan orang lain yang bahkan belum mengenalmu sebelumnya.

Aku hanya akan mempercayai sesuatu ketika itu berasal dari sumbernya. Begitupun kamu. Tentang apa yang sudah kau lepaskan pun melepaskanmu, tentang jalinan, pilinan, ikatan dan dampak apa yang kau berikan pada sekitarmu, hanya kau yang dapat mengembalikannya kembali lurus dimulai darimana dan kemana benang ceritamu bermuara. Hanya kau yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi padamu.

Tenang, aku hanya percaya sepenuhnya, ketika memang kau yang mengungkapkannya, dalam tenang, dari dasar lautan kejujuranmu. Bukan dari manusia lain, yang mungkin memang tabiat buruknya suka menyebar berita bahkan sebelum tahu kebenarannya.

 

Tapi kau juga harus tau, bahwa dengan pernyataan tadi, aku bukan berarti membelamu. Bukan berarti aku menjadi buta terhadap hal-hal yang memang jadi kekhilafanmu. Aku mempercayai kejujuranmu, tentang pembenaran dari apa yang menurut mereka buruk tentangmu, padahal sebenarnya tidak begitu. Namun juga tentang pengakuan atas hal buruk yang memang kau alami, atau bahkan mungkin lebih buruk dari segala prasangka yang telah ditujukan padamu.

 

Kita sudah dewasa, bukan?

 

Kita bukan lagi anak-anak yang bisa saling menuduh, berprasangka bahkan menangis hanya karna adu domba diantara teman sebaya. Syukurnya, sekarang kita sudah bisa berfikir dan bertindak lebih cerdas daripada itu, bukan?

 

Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya padaku tentang bagaimana aku memandangmu, maka jawabannya bukan sepenuhnya padaku, tapi padamu. Karna aku lebih percaya kejujuranmu daripada prasangka-prasangka dengan segala bumbunya.

 

Ceritaku ini bukan tentang satu orang. Tapi ini benar-benar tentangmu.

Ya, kau semua yang membaca tulisan ini sedari tadi.

 

Ketika ada orang lain yang berpendapat tentangmu aku tidak pernah begitu mengindahkannya. Lagi lagi, bukan karena aku tidak peduli.

 

Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang kubenci.

 

Benci? Ya, Ketika krasak krusuk sesuatu yang buruk tertuju padaku, aku benci pada setiap kabar yang beterbangan tanpa tanggung jawab pengirimnya. Walau pada akhirnya aku hanya tertawa karna terkadang apa yang jadi pembicaraan adalah hal yang bahkan aku sama sekali tidak mengetahuinya, apalagi mengalaminya.

 

Manusia.

Aku terlalu bodoh, terlalu lugu, terlalu polos, terlalu tak pantas ketika harus menyimpulkan tentangmu dari apa yang orang lain katakan.

Maka aku memilih untuk percaya padamu,

Pada benang yang bisa meluruskan dirinya dari ribuan prasangka, benang yang tau asal muasalnya.

Dari pada bertanya kepada warna lain yang mungkin hanya pernah melihat sekilas garismu diantara gumpalan bola benang raksasa.

 

Begitulah, bagaimana aku memandangmu.

 

Advertisements

Hingga Akhir Nanti

maxresdefault.jpg

Setiap pagi kita membuka mata

Dan semua terasa belum sempurna,

Ada kurangnya

 

Kita menjalani hari

Hingga embun turun ke dasar

Dan berganti sengatan matahari yang terpancar

Dan semua terasa masih mengganjal,

Ada celahnya

 

Malam menjelang

Senja sembunyi perlahan saat menyambutnya datang

Dan semua belum terwujud sesuai harapan kita

Belum sesuai kata-kata dalam doa.

 

Seringkali kita terlalu cepat mengambil kesimpulan

Sesuatu  tidak berjalan sebagaimana mestinya

Kita merangkai sendiri kata kecewa dan membuat definisi sendiri dalam pikiran kita

Kita menyusun sendiri alasan untuk berputus asa

 

Sabarlah.

 

Yang masih merangkak bukan berarti tak bisa berjalan.

Ada waktunya.

Yang belum merekah bukan berarti tak berbunga.

Ada waktunya.

Yang belum sesuai doa kita bukan berarti tak dipedulikanNya.

Ada waktunya.

Segala hal terjawab.

Dan semoga saat itu kita mengerti.

Dengan jawaban terbaik menurut Pemberi Jawaban itu.

Entah sesuai dengan kemauan kita. Ataupun tidak.

 

Segala sesuatu tak bisa kita ambil kesimpulan ketika masih setengah jalan

Ketika belum sampai tujuan

Dan belum terhenti di perjalanan

 

Bukankah nasib kita di kehidupan yang abadi nanti,

Juga ditentukan oleh akhir waktu kita pada kehidupan ini?

 

Semoga kebaikan hari ini tak membuat bangga diri.

Semoga keburukan detik ini tak membuat lelah diri yang terus berusaha memperbaiki diri.

 

Semoga.

Hingga Akhir nanti.

 

                Oktafiani Tri Ananda

11 November 2016

Daily Gratitude

  • Another morning this feet can feel the ground
  • The taste of Mangga maduuuu, ah :’)
  • dukungan papa.. sabarnya papa…
  • Toleransi telat yang bikin ‘jadi’ masuk kuliah hari ini
  • Senyuman candaan mama                                                                                                                                          (padahal udah ngerasa bersalah karna tadi pagi bikin sebel)
  • Dipercayain cerita…
  • Sempet, tidur, siang, bentar..
  • Ga lupa bawa payung ^^”
  • Bisa jalan… sambil denger cantiknya rintik hujan
  • Kesempatan nyapa, senyum ke siapapun yang lewat..
  • Waktu tenang, belajar malam ini..
  • Kabar yang melegakan :’)

Hampir dua bulan, daily notes nanda diisi sama dua hal baru, dua kolom baru. Dibawah daily to-do-listnya, ada space khusus buat nulis ‘NOTES’ dan ‘DAILY GRATITUDE’.

Notes itu nanda isi sama hal hal yang perlu nanda evaluasi di masing-masing hari yang terlewat, semua hal yang besok perlu pergi jauh jauh dari hidup nanda, reminder biar nanda ga ulang lagi.

Dan Daily Gratitude…. adalah kolom yang, jujur, mungkin adalah salah satu dari jutaan banyak yang bikin nanda berbunga bunga belakangan ini. hehehe. Seriously, it helps me so much in controlling emotion :’) Nanda yang biasanya panik sama rentetan aktifitas, janji, jadwal, lalala apapun itu. Yang nyesel pengen nangis kalo ke skip satu dua hal. Sekarang mulai belajar, tiap malam… harus ada waktu yang diluangkan.. bukan hanya untuk merencanakan hari esok. Tapi ga lupa, mensyukuri hari ini, pagi tadi, dan semuaaa nikmat yang kalaupun nanda udah ngucap alhamdulillah di setiap rintik hujan yang menghentak payung nandapun, rasanya ga cukuuup buat… buat ungkapin rasa terimakasih untuk apa yang nanda dapatkan setiap hari..

Ga perlu mikir. list itu kadang keisi sama hal-hal konyol :

“1st day nanda ngedanus, seumur hidup! bisa juga ternyata Alhamdulillah ”

Ga ngerti lagi.

Se-gapenting itu (kelihatannya) apa yang nanda lakuin :’)

 

Tapi,

entahlah.

 

Nanda gangerti darimana bahagia bisa muncul, dalam suatu detik, kalau di detik itu, nanda tidak sedang dalam keadaan berterima kasih, bersyukur.

Dan usaha nanda nulis daily gratitude (yang kadang sering terlewatkanpun), itu udah seminimal mungkin usaha yang bisa nanda lakuin buat sadar.. karna kalau mau ditulisin, sebenernya ga bakal cukup. ga bakal ada habisnya nikmat di tiap helaan manisnyaa hidup inii…

 

Entahlah.

 

Berbulan bulan nanda mikir hidup itu ga adil. Ya, ga adil. Ada beberapa hari dalam sebulan, (you know what lah) seorang cewe bakal selabil itu menghadapi hal secuil upil di hari-harinya. Berbulan-bulan nanda mikir kenapa, dan gimana caranya biar ga gitu lagi.

Siapa juga yang mau, jadi terlalu sensitif, dan mudah berkata dengan nada agak tinggi sama orang di sekitarnya cuma karna hal kecil, terus setelah sadar kalo itu ga baik, langsung sedih sendiri pengen nangis dan akhirnya ngurung diri di kamar supaya ga ada korban lain selanjutnya..

Udah usaha, ini itu, belum berhasil juga.

Tapi hari ini. Seingat nanda, untuk pertama kalinya.. belum ada satu orang pun yang jadi korban, seorang nanda kesel sama dia (walau hanya dalam hati) karna hal-hal kecil, yang biasanya (selalu) terjadi di bulan bulan sebelumnya ^^”

 

Entah kenapa..

 

tapi nanda rasa,

salah satunya,

karna nulis daily gratitude ini.

 

Yang, kelihatannya, ga penting.

Kekanak-kanakan.

Buang-buang waktu.

Buang-buang kertas.

 

Tapi berhasil, bikin seseorang yang biasanya labil di hari seperti ‘ini’, sekarang malah, fikirannya penuh sama pertanyaan ‘apa lagi ya yang bisa disyukuri hari ini?’ dan jadi lupa sama alesan kenapa dia mesti kesal sama sesuatu, dan ga lagi berujung di pikiran kalau hidup itu ga adil (?)

Ternyata obatnya,

sesederhana itu.

 

Alhamdulillah…

————————————————————

 

I dont deserve to be loved, to be given all things in this sweet life.

But still You do love me, give me reasons not to stop this smile.

and thats what I love the most.

Yaa Rahiim….

:’)

Keluarga Tanpa Batas

Pukul 23:03 

Waktu GH, waktu ruang angkasa, dalam imaji kita

………………………………………………………………………………………………

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas perjalanan ruang angkasa dalam imaji mu?
Mungkin kau lupa, kawan

Perjalanan kan membawa kita meroket lebih jauh dari pada angan luar angkasamu

 

Kau fikir kita sebatas ini?

Sebatas detik yang terpetik dalam arlojimu..

Mungkin kau tak ingat, kawan

Perjuangan kita tak sesingkat dugaanmu

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas kayu kayu lorong yang terpaku, atau

sebatas palu yang memukul kemudian membisu
Mungkin kita lupa, masih banyak paku paku memori yang ‘kan terpatri, nanti …
Mungkin kita tak ingat, masih ada palu semangat sahabat yang ‘kan memukul untuk bangkit kembali setelah jatuh, sekarang ataupun nanti..

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas kerlap kerlip bintang di atas sana
Lantas siang hari semangat kita sirna?
Kau lupa?
Impian kita lebih tinggi, lebih cemerlang.. bahkan dari gemintang yang berserakan malam ini

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas denting nada dan melodi
Sebatas gerak gerik langkah dalam tari
Sebatas lirik lagu ingatlah hari ini?
Bisa saja kau lupa

hari ini hanya awal

dari jutaan tali kebersamaan yang kan terjalin, seterusnya dalam perjuangan kita..

 

Kau fikir kita sebatas ini?
Sebatas ratusan kepala yang bercengkrama sesaat saja
Lalu esok ku lupa kau siapa,

lalu lusa kau tak ingat ku siapa
Kau fikir…. kita…. sebatas ini?

 

Sebatas kain hitam yang terhampar?
Sebatas properti yang tergunting?
Sebatas lampion yang tergantung?

Sebatas boneka alien tegak di ujung sana?
Sebatas MFAF saja?

Tidak

Kekompakan kita bisa lebih dari batas itu

 

Karena kita.. Ped14tric

Karena kita… KELUARGA TANPA BATAS

 

Oktafiani Tri Ananda,

5 April 2015

Berkontribusi atau mati, Menyayangi atau tak berarti.

Tersentak,

#‎Mencoba‬ untuk tidur dari jalan Dakwah ternyata membawa diri pada mimpi buruk…

#Mencoba untuk pasif dalam berkarya ternyata bukan solusi dari keletihan ini…

#Mencoba untuk berlepas tangan terhadap masalah bangsa ternyata menambah beban pada batin ini….

#Mencoba untuk menutup mata pada kondisi umat ternyata membawa diri pada imajinasi yang menakutkan…

#Mencoba untuk beralih menjadi manusia biasa ternyata melawan keinginan hati ini…

Sudah sekian lama merenungkan hal ini dan kesimpulan terakhirnya tak pernah berubah, yaitu bangkit segera, teruslah melangkah dan jadilah manusia yang berguna bagi dunia ini, jadilah manusia yang membawa senyuman bagi umat di dunia, jadilah manusia yang membawa perubahan pada dunia ini…

jangan berhenti selama mimpi mu itu masih menjadi mimpi…

tak peduli fisik ini akan hancur jadinya, tak peduli tubuh ini akan remuk jadinya, meski pada akhirnya kita harus berhenti bernafas, selama itu untuk kepentingan umat, selama itu dalam perjuangan menggapai mimpi, selama itu berada di jalan Nya, maka cukuplah itu bagi ku dan cukuplah Allah sebagai penyempurna perjuangan ku ini…

-Muhammad Khairurrijal. Fisika UGM 2014, ketua Rohis Sman 1 padang 2012/2013

Terangkum,

         Sore itu kami, dua orang pemimpi yang seiring rintik hujan turun maka seiring itu pulalah dinding pikiran dan jiwa kami dibasahi kegalauan. Kegalauan karna telah melawan keinginan hati untuk tetap berkontribusi. Keinginan yang selama ini dikalahkan oleh rasionalitas akal yang mengedepankan keinginan yang lebih menguntukan diri sendiri, ego yang ingin menang dan selalu di depan. Kami sudah memutuskan, enam setengah tahun ini sebagai masa masa untuk fokus menjadi dokter yang baik, belajar dengan baik, ujian lancar, pelajaran tak tertinggal, prestasi tercapai. Dan kami mengingatkan diri untuk melupakan organisasi, melupakan kontribusi sebagai mahasiswi. Rasanya sudah lelah berkecimpung di hal itu saat SMA. kami ingin mencoba tenang, tapi nyatanya? kami semakin panik.

Hari demi hari berlalu, semakin banyak saja yang menampar kami. dari depan, belakang, kanan, kiri, luar dan dari dalam nurani kami. Kami pemimpi, dan ternyata mimpi kami terlalu kecil jika hanya untuk menginginkan keuntungan pribadi. Kami pemimpi, dan kami rasa terlalu jauh dan melelahkan mengejar impian itu jika berlari sendiri. Kami disuguhi berbagai cerita dan pengalaman yang berujung pada sebuah kata kesimpulan dari diri kami : “Kamu terlalu kerdil, kecil dan menyedihkan jika hanya memikirkan dirimu sendiri. Padahal dunia begitu luas menunggu kontribusimu, secuil sekecil apapun jejak kontribusi yang akan kau tinggalkan…” atau setidaknya bathin ini juga meronta ingin didengarkan oleh dunia dengan jutaan kontroversinya, tapi bagaimana dunia kan mendengarkan kata.. dari seseorang yang memutuskan dirinya agar menutup mulutnya.

Dan siang tadi saya membaca tulisan tadi, tulisan yang merangkum perasaan kami, menjawab pertanyaan kami.

Tersadar,

         Di antara suara rintik hujan sore itu, saya sempat mengatakan saya ‘tidak menikmati’ kesibukan saya dalam kontribusi pada saat sekolah dulu. rentetan kesibukan tiada henti yang rasanya kurang membuahkan apa apa.Bukan, bukan itu. Saya baru sekarang menyadari. Tak semua orang mengerti definisi kata ‘tidak menikmati’ dan ‘tak berbuah apa apa ini’ versi saya ini.

Jadi sebenarnya yang saya permasalahkan dalam hal ini adalah orang tua, terutama perasaan mama. Tak ada yang salah dengan kesibukan, tak ada yang salah dengan kegiatan, alhamdulilah semua terlalui dan begitu banyak cerita, pengalaman dan teman dan hal hal baru, yang terserap dan bisa di bagi. Tapi ada satu hal (yang menurut orang) kecil tapi (menurut saya) besarr disini. Ada saat ketika kesibukan membuat saya lelah, tapi saya tidak mengoreksi kesibukan tersebut, penyebab kesalahan tersebut. Namun imbasnya malah kadang terjadi kesalah pahaman, miskomunikasi, dan hal hal yang mungkin menyakitkan orang tua di rumah.

Ketika segala kesibukan tadi sudah mendapat poin sangaaat besar di mata orang, namun ketika hati orang tua tersakiti, atau bahkan sekedar karna kurang terperhatikan, makan segala poin tadi gak ada artinya : nol, atau bahkan minus sekian sekian.  Berkahnya entah menguap kemana… dan itu.. itu yang maksud saya ‘saya tidak menikmati’. Memang ridha Allah itu, Ridha orang tua juga. dan itu benar benar ga bisa dipungkiri….

Terasa,

yang mungkin bisa diurai untaian katanya..

“Jangankan Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat aja hampir tak terlihat di peta, apalagi KAMU. yang kecil bila sendiri yang kerdil bila ego terus menyuruhmu berhenti berkontribusi. Tapi sebesar besar apapun dampak yang akan kau berikan pada dunia.. Tak kan ada gunanya, jika dari dalam rumahmu kontribusi itu justru membuatmu tak ‘sebahagia’ yang terlihat di luarnya”

yang salah bukan kontribusinya, tapi bagaimana memulai semuanya dari dalam, dan mengakhirinya dengan rasa cinta kepada kedua insan yang telah menjadi perantara Tuhan untuk menghidupkan kita dan impian kita sehingga bisa berdiri untuk melakukan kontribusi itu sendiri.

Tetap berkontribusi, karna tanpanya, tak ada gunanya lagi kita di sini. Kita, para kalifah : Berkontribusi atau mati.

Tetap bahagiakan hati kita dengan menjaga perasaan yang disayangi, terutama orang tua kita, karna tanpanya tak ada gunanya kita menjadi sehebat apapun memberikan manfaat kepada orang lain, tak ada artinya bila mereka tak kita pedulikan : Menyayangi atau tak berarti.

 

BERKONTRIBUSI ATAU MATI,

MENYAYANGI ATAU TAK BERARTI.

 

-Oktafiani Tri Ananda

 

 

Sajak Seonggok Jagung (WS. Rendra)

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena

Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…

Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

Sajak Seonggok Jagung, WS. Rendra

Kemarin, sepulang sekolah secara spontan dipanggil guru B. Indonesia, Pak Rama untuk bacain puisi ini, di lobi sekolah –” Awalnya ngerasa gak tertarik, dari judulnya yang hanyalah ” seonggok jagung”, tapi ternyata isinya daleem banget. Inilah yang sangat saya rasakan, dan yang membuat saya bingung dengan Sistem Pendidikan Zaman ini. Sistem dimana siswanya menjadi budak nilai-nilai, peringkat, angka-angka yang semu, kuantitas bukan kualitas, jadi ya begitulah jadinya…. ketika para pemuda dihadapkan dengan seonggok jagung di dalam kamarnya….

miris.

Education means inspiring someones mind, not just filling their head. (Katie Lusk)

Pendidikan oh pendidikan, semoga bisa terus menginspirasi para pemuda dan anak-anak yang haus akan ilmu… Bukan malah membuat mereka takut atau merasa terpaksa hanya karena sistem yang memaksakan standar tinggi…

agak kasihan juga ngelihat gimana anak kelas 2 SD zaman sekarang ada yang les Matematika di rumah gurunya pas malam hari. semoga diimbangi sama pendidikan moral dan inspirasi jugalah sama gurunya.

Badan kita boleh terjebak dalam Sistem, tapi akal dan hati kita semoga tetap berada out of the box, supaya nanti kita gak jadi orang yang bingung mau melakukan hal apa jika dihadapkan pada seonggok jagung! Semangat Pemuda Indonesia.. Masih ada secercah harapan……. :’)

Pulau itu…. lagi :)

lagi lagi, pulai itu lagi.

ternyata udah berlalu dua tahun lebih semenjak hari itu, 18 Juni 2011. Waktu Fafung jalan-jalan mengisi liburan setelah UN SMP 🙂 Kita naik kereta api dari Padang menuju Pariaman dan sesampai disana kita bingung mau ngapain di siang yang terik itu. Semua badmood. udah nyampai di tempat tujuan tapi setelah itu, “so what?” ga tau mau ngapain. Hingga akhirnya kita memutuskan buat pergi ke pulau seberang (yang waktu itu kita belum tau namanya pulau apa) dg menggunakan perahu kecil.

Dan sesampai di sana….. bener-bener unexplainable! Kami hanya ber-8. delapan anak perempuan + seorang yg membawa kami ke pulau itu dengan perahunya (bang Awen). Dan di pulau itu, pada saat itu bener-bener gak ada pengunjung lain. Dan fafung bener-bener meng-udik ria di sanaa~ kita merasa berkuasa, merasa jadi penemu pulaunya! haha. kangen sekali saat saat itu :’)

Dan seminggu yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, 22 September 2013, Flascita(nama kelas, kumpulan 29 manusia spektakuler sih katanya :3 ) pergi ke pantai buat foto bareng untuk buku Tahunan kelas sebagai tugas akhir pelajaran TIK. Awalnya kita berenca ke pantai tiram, gak mau jauh jauh dari padang. Dan sesampai di tempat tujuan… lagi lagi, kita ngeliat pantai Tiram dan…. “so what?” Semua kecewa. Pantainya biasa ajaa….. Dan setelah beberapa konflik dan perundingan akhirnya kita mutusin buat pergi ke Pantai Gondoria Pariaman juga 😀 terus nyebrang ke pulai itu…. huaaah, pulau itu lagi, pulau itu lagi…

Saat kunjungan kali ini, pulau ini sedang banyak didatangi wisatawan, terus bedanya lagi, sekarang udah ada beberapa kios tempat jualan minuman dan makanan di sana… jadi gak sepi kayak waktu dulu pergibareng fafung 😦 nggak kayak penemu pulau lagi… feelingnya beda :/ Tapi tetep aja, pulaunya cantiiiik, pasirnya masih lembut banget, bersih, dan airnya juga masih biru jernih, subhanAllah… semoga dengan semakin banyaknya orang yang pergi kesana, pantainya gak jadi jelek dan kotor. Aamiin!

Dan secara tak sengajaaa, ada banyak hal yaaang sama terjadi di antara kedua hari itu ( pas pergi kepulau bareng fafung dan bareng flascita). Perahu yang nanda naikin sama, dengan pengendara(?) yang sama, bang Awen! posisi duduk nanda di perahu pun sama dan… saat di perjalanan Bang Awen itu mengucapkan hal yang sama kayak dua tahun yang lalu! bener-bener flashback, namun dikelilingi oleh orang orang yang berbeda :’)

dua tahun yang lalu, bareng Fafung, di Pulau angsa dua……

Image

Image

Image

di pulau yang sama, lima hari yang lalu, bareng Flascita……

 

IMG-20130923-WA0035

563529_519094171517056_1526662585_n

1238968_519096228183517_2140138359_n

 

Saat ke pulau itu, Dua tahun yang lalu…. Kita (nanda dan Fafung) belum tau bakal masuk SMA mana… dan Alhamdulillah kami masuk SMANSa. Dan lima hari yang lalu, di pulau itu, nanda juga belum tahu akan menuntut ilmu di mana lagi selanjutnya… tapi insyaAllah itu pilihan terbaik dari Allah sesuai apa yang nanda usahakan! InsyaAllah FK UNPAD 🙂 dan ombak pantai itu lagi-lagi yang menjadi saksi, saat mata penuh harap ini memandang ke lalu lepas……..

Oktafiani Tri Ananda
28 September 2013
00:21