13 – 29 Ramadhan : Lessons learned 

Tulisan ini didedikasikan untuk seorang sahabat yang mengajak (atau menantang wkwk) untuk memperjuangkan apa yang sering ingin kita perjuangkan tapi kadang selalu jadi wacana… Ya, kamu euy. Kamu, Khairunnisa.

dan untuk mereka, yang mungkin ngerasa cuma ngelakuin hal sederhana : nanyain nanda “tulisan hari ini belum ada ya nand? Lagi sibuk?”, atau kirim chat dengan capslock “NAND JANGAN LUPA NULIS HEHE”. atau balas snapgram nanda “lah main-main sempet tapi kok nulis ga sempet naaaan” dan lainnya yang menurut kalian itu ga berarti apa-apa.. but that seriously means a lot to me :’) Nanda emang sering lupa dan lalai, dan kehadiran pengingat pengingat itu rasanya sangat berarti….. banget.

Dengan tulisan ini, nanda (dan khai) ingin meminta maaf karna bahkan nanda ga bisa memenuhi janji kita ke diri sendiri untuk lebih disiplin, yang kali ini diwujudkan dengan nulis setiap hari di Ramadan Writing Challenge bersama Khai (nanda di wordpress, Khai di tumblr).

Kenapa nanda minta maaf disini juga? Karna nanda terlanjur menyebut janjinya di snapgram dan itu berarti nanda sudah berjanji ke beberapa orang yang liat saat itu bahwa nanda akan nulis setiap hari di akun ig/wordpress ini… hehe how small it is, its still a promise right?:’

 Rasanya pengen nangis tapi masalahnya air mata ga bisa memutarbalik waktu :’)

Jadi dengan ini nanda dan khai menyatakan kegagalan kami. Ya, bahkan untuk tantangan dari diri sendiri aja kita kalah.. 

We might failed the challenge, but I dont want to see us failing the learning proccess of what weve started too.

So here, I want to share some lessons that ive got during the challenge, so it might leave more than just regrets and guilty feeling for me and Khai :’) Here they are : 

1. Gak pernah ada yang salah dari memulai. Kalaupun ada, yang salah itu adalah kurang matangnya persiapan, bukan ‘memulainya’ itu sendiri. Kita (nanda dan khai) boleh jadi kecewa karna kita gagal memenuhi tantangan 29 hari dan terhenti saat baru setengah jalan. Tapi kabar baiknya, itu lebih baik dibanding kita selalu berwacana di garis “start” tanpa pernah jalan atau bahkan merangkak sama sekali. Biasanya kita berhenti bahkan sesaat setelah kita ngomong lo, cuma bunyi tanpa aksi :’  Hm, jadi ya.. ga ada salahnya kali ini kita bersyukur ditengah kutukan dan ratapan sedih ini kan? :’)

Kita ga bisa terus-terusan langsung ingin jadi sempurna saat kita masih amatiran. Emang mesti ngaku salah ngaku bego kalo kita bener-bener mau belajar.

2. Poin 1 bukanlah pembenaran, hanya sedikit bentuk ‘apresiasi‘. Because our brain -spesifically and emotionally- our amygdala, need both  fears and reward, isnt it? 🙂 

3. Kita gak pernah sesibuk itu, tapi kita  terlalu memanjakan diri dengan alasan-alasan yang akhirnya membenarkan penyataan kalau “kita sibuk!” Padahal kesibukan kita bukan apa-apa dibanding orang lain yang bahkan emang disibukkan sama hal-hal yg jauh lebih bermanfaat.

4. Semua tentang prioritas. Ketika yang kita prioritaskan memang hal ‘penting’, hal-hal penting bahkan hal remeh temeh lainnya bakal bisa terlaksana.

10 hari pertama, saat masih semangat-semangatnya mengejar target amalan harian Ramadan, mengusahakan hal wajib dan sunnah bisa terpenuhi, rasanya semua beban kuliah, bantuin mama, sosialisasi bareng temen, bahkan baca novel sekalipun, semua terjalani. Ntah gimana caranya, semua yg biasanya keteteran, bisa jadi lebih rapi. Terbukti memang kalau Prioritas kita adalah untuk Sang Pemilik Waktu, waktu akan selalu ada untuk kita, di jalan yg baik , inshaAllah.

Tapi sayangnya cuma bisa pertahanin itu 10 hari.. 20 hari kemudian.. jangan ditanya :’) hiks

5. Musuh kita adalah diri kita sendiri, terutama ketika kita menunda dan membesarkan serta membenarkan alasanalasan yang semakin memanjakan sekaligus mematikan.

Setelah 10 hari pertama, ada ‘tamu’ yang datang dan mempersilakan untuk ga shalat dan ga baca Al-Quran yg akhirnya juga bikin malas bangun sahur, dst dst. Ya, itu normal, tapi kita sering melebih-lebihkan alasan untuk memanjakan diri. Semua alasan ditelan mentah-mentah. 

Sampai akhirnya ‘tamu’ itu pergi pun, ada banyak hal yg terlewatkan termasuk menulis karna kita udah terbiasa manja, dan semakin rajin membuat alasan yang makin lama beranak pinak : besok ujian, ada agenda persiapan KKN, ketemu pembimbing skripsi, belajar untuk tutorial, acara reunian yang cuma sekali setahun, dan seterusnya dan seterusnya sampai alasannya jadi satu kampung :’) 

 Jadi faktanya, kita ga pernah terlalu sibuk. Asal prioritas kita hal yg ‘penting’. Yang penting? Apa? 

 Segala hal yang mendekatkan kita ke Allah.

6. Ada banyak hal-hal baru tentang menulis yang kita pelajari : cara menulis cepat 15 menit (supaya menulis ga dijadikan alasan untuk mengganggu kita yg ‘katanya’ sibuk), jenis tulisan yang benar-benar cocok dengan kita (karena ternyata kebanyakan kita terpengaruh dengan gaya nulis orang lain yang, hm mungkin aja ga nyaman untuk kita pakai), tentang pentingnya riset (riset 90%, nulis 10%), dan banyak lagi. 

7. Kita belajar untuk tumbuh bersama tulisan-tulisan kita. Tulisan itu bukan bukti seberapa baik seseorang, tapi sebuah ‘harapan’ ingin menjadi apa dia. Apalagi untuk orang-orang yg ilmunya minim kaya kita, semakin kita ingin menulis, semakin banyak hal yg perlu kita pelajari sebelumnya. Dan tanpa sadar, hey, setelah menulis, kita jadi tau banyak hal yang sebelumnya belum kita tau 🙂 

8. Penjara yang paling menyiksa adalah terkurung dalam prasangka orang lain, dan mencoba menyenangkan semua orang. Dan ketika kita bisa melakukan sesuatu bukan karna orang lain, berarti kita berusaha membebaskan diri kita sendiri, bukan? 

Biasanya, kita lebih termotivasi menulis ketika ada tugas, ada lomba, tapi kali ini.. kita melakukannya karna tantangan, bukan dari siapa-siapa, melainkan dari diri kita sendiri. Karna kita tau tujuan utama tulisan kita sebenarnya adalah pelajaran untuk diri kita sendiri di masa depan. 

Dan terlalu pelit jika disimpan sendiri. Jika ada orang lain yang merasa itu bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidakpun, tak masalah. Karna kuta tau tujuan utama kita.

The more I write the more I know that writing is not about trying to speak to others outside, its about struggling to listen my voice hidden inside.

9. Time flies, and it flies faster when we dont count it. Doing something daily, makes the day more counted. 

Ya.. waktunya terbang, sama kayak Ramadan yang udah berlalu. Semoga kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri lagi sampai kita bisa ketemu Ramadan tahun depan dengan lebih maksimal lagi. (Aamiin) 💕

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s