12 Ramadhan : Tentang Menyampaikan dan Mengingatkan

“Kenapa sih menyampaikan (tabligh) jadi sifat wajib Rasulullah, manusia yang paling mulia? Kalau benar (shiddiq) ya harus, cerdas (fathanah) juga mesti, dapat dipercaya (amanah) sih wajib banget, ya kita tau lah ya kenapa. Tapi menyampaikan? hebatnya apa?”

Ada begitu banyak pertanyaan keliru yang kadang dengan kurang ajarnya keluar dari mulut kita. Salah satunya pertanyaan dari seorang gadis kecil di atas. Ya, itu sebego-begonya pertanyaan yang terfikirkan oleh saya saat itu, kira-kira 6 tahun yang lalu.

Menyampaikan, hebatnya apa? Semua orang bisa kan? 

Saya berhenti mempertanyakannya ketika sadar bahwa menyampaikan tanggungjawabnya besar sekali :”)

Ketika saya menyampaikan kultum jumat saat SMA (bukan karna saya siapa-siapa, tapi memang udah gilirannya maju di sistem piket hehe) tentang kejujuran saat mengerjakan ujian, beberapa saat setelah itu saya langsung diuji dengan kondisi akademik yang merosot dan sangat menyedihkan. Rasanya godaan untuk berlaku curang supaya ‘lolos’ dan ngga remed itu sudah menguap di seluruh udara di sekitar saya. Bahkan ada yang bilang dengan gamblang “kayaknya kalo kamu ‘lurus-lurus’ aja kamu ga bakal lulus, deh. Udahlah..”

Saya jadi berpikir : Kalau saya ga lulus, saya akan malu di hadapan orang. Kalau saya lulus tapi dengan cara curang, saya akan malu dihadapan diri saya sendiri karna saya mengingkari apa yang saya sampaikan :’) dan rasanya ga ada yang lebih memalukan daripada membohongi diri sendiri kan. Akhirnya, mati-matianlah saya berusaha lulus ujian akademik, pun ujian untuk ‘berjuang’ bersama apa-apa yang saya sampaikan.

Menyampaikan, hebatnya apa? Semua orang bisa kan? 

Saya berhenti mempertanyakannya ketika sadar bahwa apa-apa yang saya sampaikan hari ini adalah apa-apa yang akan menghampiri dan menampar saya di kemudian hari.

Entah itu perkataan, tulisan, atau apapun yang kita bagikan ke orang lain, nantinya akan kembali kepada kita untuk menguji apakah kita sudah sesuai atau belum dengan apa-apa yang kita sampaikan. Dan itu, ternyata, nggak mudah :’) Tapi barangkali itu cara Allah untuk membuat kita tumbuh bersama apa-apa yang kita sampaikan dan  agar kita tidak jadi orang yang dibenci olehNya.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. Ash-Shaf: 2-3)

Kita akan diuji sesuai apa-apa yang kita sampaikan.

Duh, berat ya emang kalau menyampaikan, yaudah kalau kalo gitu lebih baik kita diam-diam aja ya? biasa-biasa aja.. 

Nah, jangan gagal paham. Bukan berarti ketika sesuatu itu berat, kita baiknya minggat. Bukan berarti ketika dia gak mudah, akhirnya nggak indah. Pernah denger ga kalau kejahatan menang bukan karena banyak penjahat yang hidup di dunia yang kejam ini, tapi karena banyaknya orang baik yang saling diam dan mendiamkan?

 Amar Ma’ruf Nahyi Munkar (Mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan) itu juga perintahNya. Menyampaikan apapun yang baik akan terasa berat ketika ga ada yang mengingatkan. Sebagai manusia, memang alamiah bagi kita untuk lupa. Tapi syukurnya, kita juga diperintahkanNya untuk saling mengingatkan. Ketika kita bahkan lupa terhadap apa-apa yang pernah kita sampaikan, ada orang lain yang mengingatkan kita, dengan cara baik-baik. Rasanya.. ga ada cara ‘bertumbuh’ yang lebih baik dari pada itu : Saling Menyampaikan dan Mengingatkan.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang

menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung

(QS : Ali Imran, 104)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

(QS. Ali Imron: 110)

 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi.

Kecuali orang-orang yg senantiasa beriman dan beramal saleh dan saling menasehati di dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran”

(QS.Al-Asr: 1-3)

Semenjak tamparan-tamparan yang datang setelah menyampaikan apapun itu, saya baru mulai berhenti bertanya “Apa sih yang spesial dari tabligh?”

Walau keadaannya berbeda dengan konteks tabligh pada saat Rasulullah SAW menebar kebaikan dulu, tapi satu hal yang saya pahami, menyampaikan gak pernah segampang itu..

***

-dari yang mencoba menyampaikan, dan perlu setiaaap detik diingatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s