11 Ramadan : Semua laki-laki itu sama?

“Semua laki-laki itu sama!”

Sering ngga sih dengar kata-kata itu?

Entah siapa yang memulainya, tapi rasanya itu kalimat yang udah nggak asing lagi terdengar di sekitar kita. Entah cuma bercanda, ataupun saat memang sedang kesal terhadap seseorang.

Jadi, apa benar semua laki-laki itu sama? Jangan tanya saya, haha. Tanya aja langsung sama mereka ^^” Tapi bukan itu masalahnya. Hal yang sebenarnya akan dibahas disini adalah tentang generalisasi, kebiasaan kita untuk menyamaratakan respon terhadap hal yang sebenarnya berbeda, namun datang kepada kita dengan stimulasi yang sama. Dari kecil memang kita sudah terbiasa melakukan hal ini. Misalnya, kita menyebut semua hal yang dapat diduduki sebagai “kursi” atau memanggil semua wanita “mama” padahal itu bukan ibu kita. Ya, itu hal yang normal di masa awal kita mulai mengenal dunia.

Mirisnya, saat sudah dewasa, kita sering menyalahgunakan kemampuan kita untuk melakukan generalisasi, menyamaratakan sesuatu.

Contohnya malam ini, ketika menggulir (baca : scroll) linimasa instagram, saya menemukan suatu kumpulan foto polisi yang sedang membantu masyarakat yang berada dalam kesulitan. Dan sontak ketika melihat pos semacam itu, kita langsung berdecak “Wah, masih ada ya, yang baik banget gitu!”. Kenapa? Karna selama ini kita sudah sering termakan generalisasi bahwa semua polisi itu sama, sama-sama suka menilang dengan tujuan untuk mencari keuntungan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya? Kita ga bisa menyimpulkan sesuatu hanya karna kita pernah melihat kejadian itu sebelumnya terjadi pada kita.

Bukan berarti saat banyak yang mengatakan bahwa polisi suka sembarang tilang, lantas kita melupakan perjuangan mereka yang memang menjadi polisi karena berniat baik ingin menegakkan peraturan dan menertibkan masyarakat. 

Bukan berarti saat banyak yang berasumsi bahwa dokter suka mencari keuntungan dan kekayaan dari pasien, kita lupa bahwa ada mereka yang menghabiskan usianya karena benar-benar ingin membantu menyembuhkan. Yang jika mereka hanya ingin mencari kekayaan dan prestise, mereka bisa mencari pekerjaan lain, bukan dokter.

Penyamarataan kadang memang bisa berdampak buruk.

Bayangkan seorang anak yang memang memiliki niat baik untuk memperbaiki kondisi negara ini dan bercita-cita suatu saat ingin menjadi pemimpin. Tapi ketika dia mempercayai generalisasi bahwa dunia di atas sana tidak baik, politik semakin lama semakin tidak benar, kotor, maka sedikit banyaknya anak ini akan memikirkan untuk menimbun niat baiknya tadi. Dan sebagai dampaknya, akhirnya memang mereka yang ‘tidak benar’ yang semakin memenuhi ruang-ruang politik tadi. (ini hanya contoh, perumpamaan)

Dalam dunia penelitian, kita bisa menarik kesimpulan ketika kita memiliki data, terutama yang kuantitatif, misal; ketika kita melakukan sensus penduduk, lalu menyimpulkan sesuatu dari data yang kita dapatkan tersebut. Sementara untuk hal-hal yang bersifat kualitatif, yang ditekankan adalah pendalaman informasi hingga mencapai titik makna, jadi kita tidak bisa langsung menyimpulkan suatu generalisasi tidak sempurna, kecuali jika kita melakukan prosedur pengujian lagi terhadap hal tsb.

Sederhananya, kualitas seseorang secara personal nggak pernah bisa kita simpulkan hanya dari pekerjaannya, pergaulannya, lingkungannya, dsbnya, walaupun nggak bisa dipungkiri kalau hal-hal tadi bisa mempengaruhi orang tersebut.

When it comes to  personal things, we cant generalize people.

Kita bukan hanya dianugerahi kemampuan untuk menyamaratakan sesuatu (generalisasi), tapi juga kemampuan untuk membedakan satu hal dengan hal lain (diskriminasi). Dan keduanya, sama-sama kita butuhkan.

Kembali ke topik awal, yang saya yakin pertanyaan ini menjurus kepada kualitas, sesuatu yang nggak segamblang itu untuk bisa diukur :

Ketika ada laki-laki yang menurutmu tidak baik, mengecewakan, dsb apakah lantas kita boleh menyimpulkan bahwa mereka sama?

Jadi, apa semua laki-laki itu sama?

Hahaha, ya dari penjelasan tadi mungkin bisa sama-sama kita tebak jawabannya apa.

Dont loose hope, girls. 

Masih ada laki-laki baik di luar sana, percayalah.

Masalahnya tinggal apakah kita bisa membedakannya

dan apakah kita cukup baik untuk mereka atau tidak.

***

 

 

 

(HAHAHHAHHAHA. Kenapa anak kecil ini jadi mendadak bijak :”) wkwk maafkan segala kesoktahuan ini.)

Salam! 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s