10 Ramadan : Sebatas senyum

Pernah ga sih ngerasa kalau terkadang jarak kita dan orang yang kita rasa gak terlalu dekat sama kita hanya sebatas satu senyuman aja?

 

Seringkali apa yang kita anggap remeh, berarti besar untuk orang lain, bahkan untuk mereka yang tidak kita kenal sekalipun.

Coba bayangkan satu hari dimana semangatmu benar-benar hilang, atau semua masalah menumpuk dan kamu gak kuat lagi untuk tidak mengeluh, dan di tengah dunia yang penuh ketidakpedulian ini kamu bertemu satu orang yang tersenyum ke kamu. Entah siapapun itu, dunia yang tadi rasanya hitam putih bisa kembali berwarna lagi hanya karena kamu tahu kalau orang-orangnya gak sejahat itu. Pernah?

Coba bayangkan satu hari yang pasti kamu jalani setiap bulannya (Wahai perempuan! ^^”), dimana bom emosimu siap meledak setiap saat, dimana muka masammu sudah kau persiapkan dari radius sepersekian meter, tapi, ada yang memberanikan diri untuk tetap menyapamu dengan senyum. Dan dengan otot bibirmu yang kaku, kamu berusaha membalasnya, berusaha tersenyum juga walau awalnya terkesan dipaksa. Pernah?

Alhamdulillah, aku pernah.

Kita nggak pernah tau apa yang dialami oleh orang-orang disekitar kita, masalah apa, hal buruk apa, beban apa, perjuangan apa, tapi apapun itu, muka kita yang nggak bersahabat akan menjauhkan kita darinya, dan bahkan… akan menjauhkan orang tersebut dari dirinya sendiri :”)

Seandainya senyuman adalah hal yang remeh temeh, ga mungkin Rasulullah SAW pernah bilang gini :

Janganlah kamu remehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu hanya menunjukkan wajah yang ramah di hadapan saudaramu

(H.R. Muslim)

Selalu ada dinding yang membatasi kita dengan orang lain, entah itu dinding kesombongan atau apapun, tapi ternyata cara untuk meruntuhkannya ga perlu muluk-muluk, hanya sebatas senyuman.. dan hei, luruh sudah angkuhnya.

Selalu ada perasaan ketika kita ingin berbuat baik tapi tidak tahu apa, merasa minder karna nggak punya apa-apa, lalu kita memilih untuk berwajah ceria ketika bertemu teman, tersenyum.. dan hei, ternyata tidak perlu sebegitu berkecil hati ketika kita sedang tidak punya apa-apa untuk disedekahkan.

Selalu ada alasan untuk kita merasa hampa dan tidak punya alasan untuk tertawa. Tapi itu hanya kamuflase dari betapa tidak bersyukurnya kita, disaat ada otot-otot yang masih sempurna dan bisa digerakkan membentuk simpul berupa pelangi terbalik di bibir kita, dan mengundang umpan balik positif berupa perasaan bahagia.

Little do we realize that sometimes

the distance between current reality and the feeling we expect the most

is only one smile away 🙂

-Nanda, 

yang masih belajar cara tersenyum di kala bom emosi siap meledak setiap bulannya, puft :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s