Satu hari di Bulan November : Jangan ragu-ragu!

Tidak seperti November-november yang telah berlalu, yang penuh dengan pelajaran tapi selalu tidak sempat (katanya) dituliskan. Terlalu sibuk (katanya) 🙂 Maka kali ini nanda akan menuliskan satu hari di bulan November. Ya, hari ini : 20 November 2016.

Random.

Dimulai dari keragu-raguan untuk pergi seminar kepenulisan MediaKita pagi ini, ada perasaan bersalah karna pergi (ini H-3 Ujian Blok), ada perasaan penasaran dan gak akan fokus belajar kalau gak pergi (seminarnya cuma 3 jam aja kok), dan bercampur perasaan sedih karna ga ada teman (ya,siapa juga yang mau nemenin ikut seminar disaat besok deket ujian blok nand :”))

Ragu-ragu. Satu jam berlalu. Belajarpun gak fokus karna ga rela kehilangan kesempatan. waktu terbuang sia-sia. Akhirnya.. memutuskan pergi, sendiri, setelah lewat satu jam. Yang penting hati tenang. haha.

Ga ada teman, ga tau lokasi, muter-muter dan akhirnya tibalah…. di penghujung acara. Mungkin cuma bisa dengar setengah jam dari talkshownya, tapi demi apa gak ada rasa penyesalan sama sekali. It srsly worth it, no matter what.

nov.jpg

Satu pesan dari Editor Media Kita, Kak Juliagar R.N. pas nanda baru masuk ruangan…

Pembicara lainnya adalah Bung Fiersa Besari, penulis buku garis waktu.

Berhenti menulis sama saja dengan mati sia-sia. (Garis Waktu)

Dan ketika ditanyai tentang siapa penulis yang menjadi panutan, jawabannya adalah Pramoedya Ananta Toer (yang bagi nanda, tulisannya adalah tulisan baru yang masih ‘berat’ dan terlalu ‘malas’ untuk nanda mulai). Kenapa Pram?

Bung Fiersa menceritakan sejarah konflik kesusateraan Indonesia : Lekra vs. Manikebu. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan prinsipnya sendiri, sementara Manikebu ( Manifes Kebudayaan) bersikukuh menyatakan bahwa seni dan kebudayaan adalah perjuangan untuk memperbaiki kondisi hidup rakyat. Nanda sejujurnya belum terlalu mendalami sejarah ini, bahkan baru tau (akan diulas dalam tulisan berbeda, inshaAllah). Juga tentang perseteruan Pram dan Buya Hamka (Yang nanda juga baru tau).

Hingga sampai ke kisah dimana konflik-konflik yang dialami Pram membuatnya dipenjarakan di Pulau Buru, Maluku. Selama 10 tahun, diasingkan, dan  dilarang menulis.

Tapi apa? Di asingkan dan dilarang menulis selama 10 tahun.. (ingat ya dulu ga ada gugel) Pram malah melahirkan Tetralogi Buru yang ia tulis secara diam-diam. Dan salutnya lagi, tokoh ‘Minke’ dalam tulisan itu bukan tokok fiksi, tapi tokoh nyata, seorang pahlawan yang terlupakan yang justru diperkenalkan oleh Pram lewat bukunya setelah tokoh itu wafat 100 tahun sebelumnya. Ya. Minke, merupakan tokoh asli bernama Tirto Adhi Soerjo : Bapak pers Indonesia.

Nanda, yang baru aja membeli salah satu Tetralogi Buruh dua hari yang lalu, jelas merinding mendengarnya :”) Dan berjanji segera setelah ujian akan menelusuri kisah Minke yang baru nanda sentuh satu halaman saja. Terimakasih untuk pencerahan dan pengetahaun barunya, Bung!

Dan juga pembicara lainnya, Kak Boy Chandra, yang berpesan kalau kamu bisa memulai semua dari mana kamu berasal.

Gak harus ke Jakarta. Asal kamu tau pola-polanya. Asal kamu mau memaksimalkan teknologi yang ada.

Tumbuhlah dari kotamu sendiri. Buat sejarahmu sendiri.

***

Malam. Di tengah-tengah kejenuhan ‘perjuangan’. Adzan Isha. Lalu nemu ayat ini :

nov2.jpg

(QS. Hud  : 6)

Jadi teringat masa-masa Ujian Nasional SMA. Waktu itu nanda pernah baca, kalau seandainya Allah itu udah menuliskan semua yang baik-baik untuk kita. Untuk takdir yang dapat kita upayakan dan perjuangkan.

Ujian Matematika? Udah ada nilai 100 dituliskan untuk kita di depan sanaKalau mau ya ambil, berusaha dan minta lagi ke Allah. Kalau ga mau, yaudah jangan ngeluh kalau nanti kita ga dapat yang kita harapkan. Sesederhana itu. Intinya semua yang baik-baik sudah dituliskan dan disediakan untuk kita. Tinggal bagaimana kitanya : Mensyukuri atau mengingkari?

***

Mau lanjut belajar. Tiba-tiba kepikiran sesuatu. Hari ini pengumuman kelulusan peserta YOUCAN EMPOWER (http://www.youcan-indonesia.org/empower) untuk wawancara minggu depan. Cek email sebentar dan… Taraaa :’)
nov3.jpg

Alhamdulillah ‘nekat-nekat semangat’ membuahkan hasil. 300 yang lolos dari 5992 (angka yang bikin ketawa ketika baru tau jumlah pendaftarnya wqwq).

Setidaknya sesuatu yang ingin diupayakan menjadi semakin dekat . Nekat? Ya, nekat. Terlalu berani tanpa berfikir panjang (Udah lelah mikir lama lama :”)) Disaat yang lain mikir dua kali untuk pengabdian masyarakat ke desa terpencil, dan di weekend masa kuliah. Nanda yang ‘anak manja’ malah seenak jidatnya daftar dan baru ngerjain semuanya di detik-detik batas waktu penutupan.

Lagi lagi, kali ini bahagianya terasa karena bisa berusaha lebih jauh. Itu saja. Dan untuk apapun, koin dua sisi itu tetap selalu dibawa : Sisi memperjuangkan dan juga mengikhlaskan, segala yang baik-baik. Bukan lulus tujuan utamanya, tapi berusaha memaksimalkan semua selagi bisa. Semoga yang terbaik! 🙂

***

Intinya, hari ini nanda belajar kalau..

Hidup itu ga boleh disia-siain untuk ragu-ragu. Kalau nggak ya nggak. Kalau iya ya iya. Tapi juga jangan terlalu mudah berkata iya. Pertimbangkan. Dan sekalinya berani menjawab iya. Pertanggungjawabkan kata ‘iya’ tersebut. Perjuangkan.

Sekarang nanda sudah 20 tahun. Waktunya berdiri sendiri. Waktunya memutuskan sendiri dengan bijak sesuatu yang kecil sampai besar. Kalau orang lain ga ada yang mau tapi nanda yakin?  Ya, ikutin keyakinan nanda. Bukannya ciut hanya karna alasan remeh temeh ‘ga ada temen’. Hidup nanda ya hidup nanda. Dua puluh tahun berlalu dan sekarang bukan saatnya lagi main ekor-ekoran, bebek-bebekan 🙂

Semua orang punya prioritas masing-masing dan bukan berarti kesamaan yang nanda miliki dengan orang itu menjadikan prioritas nanda dan mereka sama. Kita punya kaki masing-masing. Sepatu kita juga ga bisa dipaksa satu jenis dan satu ukuran kan? Ada titik nyamannya masing-masing untuk bisa tetap melangkah ke tujuan masing-masing. Toh nanti, perjalanan akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama.

So, dont worry.

Jangan banyak alasan. Dunia itu butuhnya karya dan manfaat, bukan alasan.

Perbanyak karyanya, kurang-kurangi alasannya.

Dan satu lagi,

Yang berbahaya itu bukan kegagalan. Tapi rasa malas. Malas belajar, dan malas bangkit lagi setelah jatuh.

Udah. Sekian. Demikianlah upaya untuk menghilangkan kantuk malam ini.

Semangat melanjutkan perjuangan!

***

#ujianblokdidepanmata

:’)

Oktafiani Tri Ananda

21 November 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s